<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-12173521</id><updated>2012-02-09T15:10:30.771+01:00</updated><title type='text'>Catatanku...</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://catatanmiray.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatanmiray.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>miraykemuning</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08730566268073221950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>28</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12173521.post-4899462364393613917</id><published>2008-08-07T14:14:00.000+02:00</published><updated>2008-08-07T16:00:55.866+02:00</updated><title type='text'>Menulis kembali</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:85%;" &gt;Wah, setelah setahun absen. Tak bisa bercerita, tak bisa berbagi, tak bisa mencurahkan isi hati. Semua hanya karena aku tak terlalu pandai menyikapi perubahan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:85%;" &gt;Hari ini, dicoba lagi, dan...yaaaahhhh, aku bisa menulis kembali di blogku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12173521-4899462364393613917?l=catatanmiray.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatanmiray.blogspot.com/feeds/4899462364393613917/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12173521&amp;postID=4899462364393613917' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/4899462364393613917'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/4899462364393613917'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatanmiray.blogspot.com/2008/08/menulis-kembali.html' title='Menulis kembali'/><author><name>miraykemuning</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08730566268073221950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12173521.post-117283017315846320</id><published>2007-03-02T11:01:00.000+01:00</published><updated>2007-03-02T11:11:48.326+01:00</updated><title type='text'>Sahabat Baru</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#996633;"&gt;Sudah hampir sembilan bulan terakhir ini, aku mempunyai teman baru yang semakin lama terasa menjadi seorang sahabat. Ya, sahabat baru. Bagaimana tidak, sejak aku terbangun sampai terlelap kembali, dia selalu bersama. Awalnya, aku hanya tahu dan menyadari tanpa bisa merasakan. Dengan berjalannya waktu, aku mulai bisa merasakan kehadirannya melalui gerakan dalam tubuhku, semakin lama semakin terasa dan sosoknya semakin lama semakin membesar. Aku belum dapat melihat sosoknya dengan jelas, tapi kurasakan detak jantungnya, kurasakan gerakan-gerakan kecilnya dan aku selalu terkagum bila melihat gambar dirinya yang bertumbuh setiap bulannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#996633;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#996633;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#996633;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#996633;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#996633;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#996633;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#996633;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#996633;"&gt;Dia hadir, seperti sebuah keajaiban. Dari tak ada, menjadi ada. Dari sebuah bentuk tak berwujud, menjadi sosok kecil yang menimbulkan rasa sayang dan cinta. Tak pernah dia bisa bercakap denganku, tetapi aku tahu dia merasa, dia mendengar dan dia tahu. Belum pernah terjadi dalam hidupku ada sosok bernyawa yang tak pernah lepas dari kehidupanku. Bersama kami lalui tawa, tangis, sakit dan bahagia. Dia tak terpisahkan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#996633;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#996633;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#996633;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#996633;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#996633;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#996633;"&gt;Sekarang ini, dia hampir tiba di dunia. Tak sabar kunanti kehadirannya, sambil juga bersiap kehilangan kebersamaan kami yang tak terputus. Saat ini aku harus mulai belajar, saat dia hadir di dunia, adalah saat aku menemaninya menjadi sosok pribadi baru tanpa harus mengikatnya terus dekat denganku. Satu harapanku, dia bisa tumbuh menjadi sosok yang bahagia dengan dirinya sendiri dan bahagia menjadi dirinya sendiri kelak. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12173521-117283017315846320?l=catatanmiray.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatanmiray.blogspot.com/feeds/117283017315846320/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12173521&amp;postID=117283017315846320' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/117283017315846320'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/117283017315846320'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatanmiray.blogspot.com/2007/03/sahabat-baru.html' title='Sahabat Baru'/><author><name>miraykemuning</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08730566268073221950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12173521.post-116237372051267962</id><published>2006-11-01T10:04:00.000+01:00</published><updated>2006-11-03T08:55:21.523+01:00</updated><title type='text'>Sosok Pahlawan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(153, 102, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Seseorang menjadi pahlawan, bila ia dianggap berjasa oleh orang lain atau oleh sekelompok masyarakat. Membayangkan pahlawan kemanusiaan, sering kita diingatkan pada tokoh Mahatma Gandhi, Pangeran Diponegoro atau Ibu Theresia. Hampir kebanyakan hidup orang yang dianggap pahlawan, bisa dijadikan teladan. Mulai dari ketulusan, kesederhaan, kemauan untuk berkorban dan semua hal baik lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain dengan tokoh Oskar Schindler. Aku mengenal tokoh ini melalui film karya Stephen Spielberg "Schindler List". Melihat tokoh Oskar, rasanya kok tidak pas dengan deskripsi pahlawan, yang menunjukkan kejujuran, kebaikan, kesetiaan, kesederhanaan, niat baik atau kepedulian terhadap orang lain. Oskar Schindler, yang adalah seorang oportunist NAZI pada waktu perang dunia ke dua, jauh dari deskripsi itu. Setelah mencari-cari informasi tentang hidupnya dan karya kepahlawanannya, aku jadi bertanya-tanya dan sedikit heran. Bagaimana seorang seperti Oskar mampu menolong dan menyelamatkan 1200 orang Yahudi dari kamp konsentrasi NAZI, sementara kebanyakan orang lain hanya sanggup merasa prihatin tanpa sanggup melakukan apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oskar Schindler adalah seorang Jerman. Gagah, charming, bermata biru dan memiliki kemampuan dan talenta untuk menjadi seorang presenter yang baik. Kemampuannya membujuk, merayu, meyakinkan orang lain dengan segala cara, membuat pengusaha yang sering gagal itu mempunyai usaha yang maju bahkan didukung sepenuhnya oleh penguasa NAZI yang berkuasa saat perang dunia ke duaitu. Motivasi awal ia melakukan semua itu hanyalah mencari keuntungan dan kekayaan belaka. Saat perang, saat pengusaha Yahudi yang kaya di Polandia harus melepaskan kekayaannya, saat NAZI sedang berjaya, saat itulah ia memanfaatkan talentanya untuk merenguk keuntungan yang sebanyak-banyaknya. Hidupnya digambarkan sebagai seorang yang suka minum-minum, pesta, main perempuan, lengkap dengan praktek kolusi dan sogok sana sini untuk mendapatkan kemudahan usahanya. Padahal disisi lain, seorang Itzak Stern, akuntan Yahudi, yang sesungguhnya menjadi otak dibalik semua kesuksesannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai disini, tak pernah terlintas ia akan menjadi sosok yang dicatat dalam sejarah. Tidak terlihat nilai-nilai kepahlawanan dalam sosoknya, bahkan istri dan perkawinannya pun begitu tidak penting baginya. Tetapi, di satu saat, ketika dari hari ke hari ia melihat kekejaman tentara Jerman dan ketika para pekerjanya harus dikirimkan ke Auswitz untuk dibunuh, hidupnya jadi berubah. Cara pandangnya jadi berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertolak dari sana, ia lalu melepaskan segala miliknya. Sebetulnya, saat para pekerjanya, yang keseluruhannya terdiri dari orang Yahdui, hendak dikirim ke Auswitz untuk dibunuh, ia bisa pergi dan membawa keuntungannya kembali ke Jerman. Tetapi yang ia lakukan justru menggunakan kekayaan dan pengaruhnya untuk menyelamatkan 1200 orang Yahudi dari kamar gas di Auswitz. Dengan trik, suap dan kolusi yang memang sudah menjadi kebiasaannya, ia lepaskan semua yang ia miliki demi sekian banyak nyawa, nyawa "Schindler Jews". Ia memang akhirnya dianggap pahlawan oleh orang Yahudi tetapi dianggap penghianat oleh bangsanya sendiri. Ia meninggal dalam keadaan bangkrut, tetapi mendapat penghormatan di Israel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak pernah bisa mengerti hal apa yang mendorong ia melakukan semua itu. Yang bisa kutangkap hanyalah, dibalik cara hidupnya yang tidak biasa untuk sosok seorang pahlawan, ia masih memiliki hati nurani dan rasa kemanusiaan yang mampu merubuhkan tembok kebencian, baik kebencian pada etnis, suku, agama, pandangan hidup atau perbedaan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya, rasa dan hati seperti itu masih ada pada setiap kita, lepas dari bagaimana sifat, karakter atau cara hidup, rasanya tak perlu lagi ada perpecahan, kekerasan dan peperangan terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12173521-116237372051267962?l=catatanmiray.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatanmiray.blogspot.com/feeds/116237372051267962/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12173521&amp;postID=116237372051267962' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/116237372051267962'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/116237372051267962'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatanmiray.blogspot.com/2006/11/sosok-pahlawan.html' title='Sosok Pahlawan'/><author><name>miraykemuning</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08730566268073221950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12173521.post-116109714908450369</id><published>2006-10-17T16:48:00.001+02:00</published><updated>2006-10-17T21:23:00.100+02:00</updated><title type='text'>Kembali</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);"&gt;Setelah empat bulan terkapar dalam ketidakberdayaan dan kemanjaan, hari ini aku kembali melangkahkan kaki ke tempat dimana aku biasa bekerja. Belum, aku belum mendapatkan pekerjaan. Tetapi statusku sebagai scientist tamu membuat beberapa teman baikku, baik langsung ataupun tidak langsung, setia merayuku untuk kembali.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51); font-style: italic;"&gt;"Kamu butuh keluar non, jangan ngerem aja, nggak nolong!"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51); font-style: italic;"&gt;"Kami rindu liat kamu, semoga semuanya baik"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51); font-style: italic;"&gt;"Ketiadaanmu membuat kami khawatir, semoga semuanya berjalan lancar."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);"&gt;Begitulah inti dari beberapa pesan yang aku terima selama masa "masuk gua". Sebenarnya sudah lama ingin kembali ke tempat kerja, tetapi sampai kemarin, rasanya belum punya kekuatan untuk melakukannya. Keinginan selalu ada, kerinduan apalagi, tetapi selalu saja ada alasan yang membuatku tetap di rumah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);"&gt;Dua minggu terakhir ini aku semakin sehat dan menikmati pengalaman baru yang indah dan tak terlupakan ini, karenanya aku tak mengikuti perasaanku lagi ketika aku keluar dari pintu rumah hari ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);"&gt;Teman baikku di tempat kerja memelukku erat saat kami bertemu. Tanpa terasa satu jam kemudian ruangan mungil kami menjadi penuh dengan suara, tawa dan canda kembali. Ada yang hilang, komputerku rusak, mati. Setelah ditinggal hampir empat bulan, ternyata komputerku pun ikut ngadat. Ditambah dengan rusaknya laptopku, aku tak bisa mengerjakan apa-apa. Akhirnya siang ini aku mengelilingi kampus, menggali memory yang pernah ada dan menikmati siang musim gugur yang hangat. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);"&gt;Di depan layar di pusat layanan komputer, aku kembali bergairah menyusun rencana-rencana ke depan. Bergairah untuk kembali berkarya. Lega rasanya bisa kembali, walaupun tak ada janji dan kepastian akan kesempatan kerja yang baru. Tak apa, yang membuatku senang adalah, aku seperti menemukan diriku kembali dan si kecilpun sepertinya senang, karena dia begitu tenang selama aku bernostalgia dan meluapkan semangat baru ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12173521-116109714908450369?l=catatanmiray.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatanmiray.blogspot.com/feeds/116109714908450369/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12173521&amp;postID=116109714908450369' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/116109714908450369'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/116109714908450369'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatanmiray.blogspot.com/2006/10/kembali.html' title='Kembali'/><author><name>miraykemuning</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08730566268073221950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12173521.post-116057073012995623</id><published>2006-10-11T14:39:00.000+02:00</published><updated>2006-10-11T14:48:06.586+02:00</updated><title type='text'>Satu Tahun</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Satu tahun yang lalu, ada satu kehidupan terhenti. Menyisakan kesedihan yang mendalam dan rasa rindu yang tak putus. Bahkan sampai hari ini. Seandainya saja dia ada, banyak yang bisa kita alami bersama. Pikiran tentang betapa bahagianya dia kini bersama Sang Khalik, menolongku untuk tetap bisa menjalani hidup dengan nikmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah satu tahun menanti, ada juga satu kehidupan baru di dalam tubuhku. Keajaiban tertiupnya nafas baru menyadarkanku bahwa siklus kehidupan belum berhenti. Lingkaran kebahagiaan tetap tak terputus dan aku bisa tersenyum menikmati kehadirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pernah lelah Dia berkarya, tak pernah lelah Dia ajari hidup, dan tak pernah lelah dia beri aku sukacita. Aku bersyukur. Bersyukur untuk pernah mengalami masa indah dengan orang tercinta dan bersyukur untuk mengalami masa indah sekarang dan ke depan dengan manusia baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:78%;" &gt;*kenangan atas perginya ibu tercinta setahun yang lalu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12173521-116057073012995623?l=catatanmiray.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatanmiray.blogspot.com/feeds/116057073012995623/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12173521&amp;postID=116057073012995623' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/116057073012995623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/116057073012995623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatanmiray.blogspot.com/2006/10/satu-tahun.html' title='Satu Tahun'/><author><name>miraykemuning</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08730566268073221950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12173521.post-115995722376644109</id><published>2006-10-04T11:56:00.000+02:00</published><updated>2006-10-04T12:33:22.476+02:00</updated><title type='text'>Mati Lampu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);"&gt;Mati lampu merupakan hal yang biasa terjadi. Tanpa peringatan, tanpa tanda-tanda, tahu-tahu....pett. Tidak peduli apakah kita sedang enak menonton tv, atau sedang menggunakan komputer, atau sedang membaca, atau yang lainnya, kejadian mati lampu tetap saja terjadi tanpa permisi. Hal ini lalu diiringi dengan teriakan kekecewaan. Tetapi biasanya hanya teriakan kekecewaan yang terjadi. Selanjutnya walaupun diiringi dengan dumelan, omelan, makian dan segala sumpah serapah, setiap orang akan berusaha menerima keadaan dan menunggu sampai perbaikan atau kebaikan hati orang PLN akan menyalakan aliran listriknya lagi. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);"&gt;Lain di kampung halaman, lain di negri orang. Pernah, beberapa tahun yang lalu kejadian aliran listrik padam terjadi saat aku harus melakukan pekerjaan di laboratorium. Laboratoriumku yang satu ini agak unik. Dia terletak terpencil di bawah tanah, yang walaupun dihari kerja tak pernah ada satu orangpun yang rela datang kesana. Selain karena sepi, jalan menuju kesanapun gelap, dan di laboratorium itu kita hanya akan ditemani dinding bunker yang tebal, tumpukan sampel-sampel batuan dan mesin-mesin yang berbunyi tapi tak bernyawa. Sebetulnya, akupun tak suka berlama-lama disana. Tetapi karena bagian penelitianku membutuhkan fasilitas itu, maka terpaksalah aku menjadi pengunjung tetap laboratorium sepi dan tak ramah itu, meskipun di hari sabtu atau minggu. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);"&gt;Satu hari di hari sabtu, sedang asyik bekerja ditemani radio kecil, tiba-tiba aliran listrik mati tiba-tiba. Reaksi pertamaku hanya kaget. Tapi selebihnya aku seperti tercekik ditengah kegelapan dan panik mulai melanda. Berjalan tertatih-tatih, sambil berusaha mencari pegangan dan berusaha tidak merusak preparasi sampel dan alat-alat yang mudah pecah, aku berusaha mencari orientasi dan memikirkan hal yang harus kulakukan. Kali ini, makian, kemarahan tidak akan banyak menolong dan membuat hatiku puas. Aku tetap panik dan takut. Ditengah rasa panik, selain makian, doa dan juga usaha menghibur diri kulakukan, karena usaha mencari pintu keluar dalam keadaan gelap gulita, melewati ruang laboratorium yang gelap yang dilanjutkan oleh lorong panjang yang juga gelap, bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Berteriak minta tolong pun akan sia-sia, selain karena dinding yang tebal, tak ada orang yang sudi datang kesana, hari itupun hari sabtu, dimana tidak banyak orang suka rela datang bekerja di uni bila tidak terpaksa. Sambungan teleponpun ikut mati seiiring dengan putusnya aliran listrik. Dan yang lebih menyebalkan, aku lupa membawa telepon genggamku karena kupikir tak akan berfungsi banyak diruang bawah tanah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);"&gt;Perlahan-lahan akhirnya kutemukan jalan keluar. Rasa lega baru tercapai setelah aku melihat cahaya matahari di luar lorong bawah tanah. Bergegas, aku mencari lampu senter di ruang kerjaku dan kembali ke ruang gelap itu, untuk membereskan sampel-sampelku. Tak ada lagi niatan untuk meneruskan pekerjaan yang tertunda. Pekerjaanku tidak tuntas hari itu dan aku lalu melanjutkan kegiatan menikmati suasana sabtu dengan tenang. Hari minggu, aku sudah melupakan kejadian itu dan hidup seperti biasa lagi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);"&gt;Ketika hari senin aku kembali ke kampus, kehebohan mulai terdengar. Ternyata banyak pihak yang mulai ribut dan melayangkan surat protes kepada perusahaan listrik. Saat pertemuan mingguan digelar, kita diminta menandatangi surat protes dan surat ganti rugi kepada perusahaan listrik itu atas kelalaian mereka melakukan tugas. Ditambah lagi, kejadian padamnya aliran listrik itu juga dimuat di koran lokal, tv dan radio-radio, bahkan dijadikan bahan diskusi oleh ahli-ahli yang dianggap kompeten. Intinya, aliran listrik padam hari sabtu itu menjadi skandal besar. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);"&gt;Iseng-iseng kutanya kepada beberapa temanku yang ikut menandatangi surat protes itu, dimana mereka berada saat kejadian berlangsung. Hampir semua sedang berada di rumah atau sedang bepergian dan tidak tertimpa dampak langsung dari padamnya aliran listrik yang hanya menimpa daerah universitas dan beberapa daerah pemukiman disekitarnya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);"&gt;Mmm, kalau mereka yang tidak tertimpa bisa bereaksi seperti itu, seharusnya aku bisa bereaksi lebih heboh lagi, karena aku adalah salah satu korban langsung. Tetapi karena sudah terbiasa dengan padamnya aliran listrik yang tiba-tiba tanpa pertanda, aku jadi seperti terbiasa juga menerima kerugian itu dan tidak terpikirkan untuk protes atau melakukan tindakan menuntut ganti rugi. Malahan aku merasa kejadian itu biasa-biasa saja dan memaklumi keterbatasan kerja manusia. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);"&gt;Dengan kejadian ini, aku jadi bertanya-tanya, seperti apakah seharusnya aku bereaksi bila hal ini terjadi lagi? menganggapnya sebagai hal yang biasa dan hidup dengan keadaan itu, atau harus ikut protes juga?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12173521-115995722376644109?l=catatanmiray.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatanmiray.blogspot.com/feeds/115995722376644109/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12173521&amp;postID=115995722376644109' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/115995722376644109'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/115995722376644109'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatanmiray.blogspot.com/2006/10/mati-lampu.html' title='Mati Lampu'/><author><name>miraykemuning</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08730566268073221950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12173521.post-115139444233232448</id><published>2006-06-27T09:32:00.000+02:00</published><updated>2006-06-27T10:10:44.766+02:00</updated><title type='text'>Menerima diri sendiri</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);"&gt;Diawal pekan kerja ini aku dan beberapa sahabatku sepakat untuk melewati saat sarapan bersama. Bukan tanpa tujuan kami bertemu. Selain menikmati suguhan sarapan murah, meriah dan mengenyangkan, kami pun ingin mengenal satu dengan yang lain lebih dalam lagi, terlebih kami ingin belajar mengenal diri kami sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);"&gt;Sahabatku beberapa waktu yang lalu sempat membagikan salah satu bagian dari buku tentang wanita yang ternyata sulit menerima dirinya sendiri. Setelah dibaca dan disadari, ternyata hal itu memang itu menjadi masalah bagi kebanyakan wanita. Tuntutan sosial yang menuntut kesempurnaan fisik seorang wanita, membuat wanita merasa tidak aman untuk menjadi dirinya sendiri. Rasa tidak aman ini mendorong wanita untuk mengusahakan agar dirinya layak dianggap ada dan diterima oleh lingkungannya. Usaha memperbaiki kecantikan, program pembentukan tubuh yang ideal dan beragam produk yang menawarkan ke-ideal-an seorang wanita, membuat kebanyakan wanita lupa akan esensinya menjadi wanita, menjadi seorang manusia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);"&gt;Terdorong dari situ, kami sepakat bertemu dan mencoba untuk mengenali diri kami sendiri. Melalui &lt;span style="font-style: italic;"&gt;excercise&lt;/span&gt; ringan dan diskusi yang hangat kami boleh belajar untuk mencoba melihat ke dalam. Seru dan menyenangkan. Lepas dari isi diskusinya, ada satu hal yang kurasakan begitu menonjol dari pembicaraan kami. Setelah kami menuliskan sisi baik dan buruk kami pada secarik kertas, ternyata kami semua memiliki kesamaan, yaitu lebih mudah menuliskan kelemahan atau kekurangan kami ketimbang kami menuliskan kelebihan atau bakat-kami yang menonjol. Sepertinya begitu sulit untuk mengungkapkan kelebihan dan bakat kami, tetapi kami bisa dengan ringan bisa menulis betapa kami tidak sabar, malas, keras kepala, cerewet dan sejuta kekurangan lainnya. Hal ini membuatku sempat termangu setelah pertemuan ini usai. Mengapa seperti itu? mengapa kami seperti enggan untuk membagikan apa yang menjadi kekuatan kami kepada orang lain?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);"&gt;Ketika aku bercermin pada diriku sendiri, aku teringat bahwa kebudayaan kita selalu menekankan pada betapa pentingnya rendah hati. Kalau kuingat, betapa banyak peribasa yang dibuat untuk selalu rendah hati. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tong kosong nyaring bunyinya&lt;/span&gt;, atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pakailah ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;air beriak tanda tak dalam&lt;/span&gt;, dan yang lainnya. Ditambah lagi dengan panjangnya pelajaran pendidikan moral pancasila yang menekankan untuk selalu rendah hati, ramah, gotong royong dan hal-hal pancasilais lainnya. Salahkah semua itu? tentu saja tidak. Tetapi disadari atau tidak disadari, hal itu mendorong kita untuk berhati-hati dalam bersikap. Salah-salah kita bisa dianggap orang yang sombong, dan itu mendorong kita mendapat point negatif dari lingkungan kita. Karenanya tak heran bila aku sering termalu-malu dan berusaha menutupi kelebihanku dengan sejuta kata-kata rendah hati. Bahkan tak jarang hal ini membuatku menjadi lebih berkonsentrasi pada kekuranganku dan berujung pada kesadaran bahwa aku tak cukup baik untuk melakukan sesuatu hal.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);"&gt;Bila dibandingkan dengan teman-temanku di Eropa sini, sepertinya hal itu berbanding terbalik. Tanpa ragu, mereka mampu menyebutkan kelebihan atau kemampuan mereka secara terbuka dan sekaligus kekurangan mereka. Dan mereka yang mendengarkanpun tak langsung memberikan reaksi negatif ketika mendengarkan seseorang menyebutkan kemampuannya. Semuanya disambut biasa-biasa saja. Rasanya tak ada cibiran yang dilanjutkan dengan bisik-bisik, tong kosong nyaring bunyinya. Memang adakalanya, mereka tidak seperti yang mereka katakan, tetapi mengenali kemampuan diri sendiripun menolong mereka untuk belajar percaya pada diri sendiri. Kalau kubayangkan, aku pasti akan tersipu malu dan mengatakan "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ah, ini biasa-biasa saja kok, saya masih belajar&lt;/span&gt;" ketika seseorang memuji hasil pekerjaanku walaupun kenyataannya aku memang mampu dibidang itu. Rasanya tidak pantas kalau aku mengatakan hal yang sebaliknya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);"&gt;Memang kurang baik untuk memiliki rasa percaya diri yang berlebihan. Tetapi menutupi dan menyelubunginya pun membuat kita sering mempunyai gambaran diri yang salah. Tak semua kemampuan diri yang tak diucapkan menunjukkan bahwa seseorang itu rendah hati. Karena sering pula hal itu mendorong kita mencibir dan merendahkan karya seseorang karena diam-diam kita merasa diri kita lebih mampu atau lebih baik.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);"&gt; Sekarang ini, rasanya aku perlu lebih banyak belajar untuk bisa mengenali kelebihan dan kekuranganku dengan lebih objektif. Karena aku percaya bahwa seseorang diciptakan lengkap dengan talenta dan keterbatasannya. Ketidakseimbangan mengenali keduanya, sepetinya membuat kita tidak bersyukur pada pemberi hidup. Mungkin aku perlu berlatih untuk dapat menyampaikannya dengan kemas yang lebih baik. Mmm, tugas yang berat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12173521-115139444233232448?l=catatanmiray.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatanmiray.blogspot.com/feeds/115139444233232448/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12173521&amp;postID=115139444233232448' title='15 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/115139444233232448'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/115139444233232448'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatanmiray.blogspot.com/2006/06/menerima-diri-sendiri.html' title='Menerima diri sendiri'/><author><name>miraykemuning</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08730566268073221950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>15</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12173521.post-115072583092362358</id><published>2006-06-19T15:49:00.000+02:00</published><updated>2006-06-19T16:13:54.130+02:00</updated><title type='text'>Pengangguran</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;Tidak terasa sudah hampir setengah tahun aku jadi pengangguran. Sejak enam bulan yang lalu seiring dengan habisnya kontrak kerja dan purnanya studiku, aku tidak bekerja secara profesional lagi. Semula, aku pikir aku pasti tak akan mampu melewati waktu tanpa mengerjakan hal-hal yang selama ini biasa kukerjakan, seperti pergi ke tempat bekerja, menganalisa sample, menganalisa hasil penelitian, membuat report dan mengejar deadline. Semua itu memang sangat aku nikmati, walaupun saat mengerjakannya aku sering menemui kesulitan yang sempat juga membuatku ingin mundur. Hilangnya ritme kehidupan yang terbiasa kujalani sempat membuatku merasa skeptis dan menganggap bahwa pasti aku menjadi tidak produktif dan tidak berguna. Sempat pula aku berpikir, pasti waktu-waktuku akan menjadi panjang dan membosankan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;Tetapi kenyataannya tidak seperti itu. Tuhan terlalu baik untuk membuat hidupku kosong tanpa ada yang dikerjakan. Kalau saat ini secara profesional aku tak mengerjakan apapun, kehidupanku tak lantas menjadi berhenti dan berakhir. Bila diingat apa saja yang kulakukan selama enam bulan terakhir ini, ternyata aku seperti tidak pernah punya banyak waktu untuk benar-benar diam dan tidak melakukan apapun. Sejak bangun pagi sampai saat tertidur waktuku dipenuhi oleh banyak hal. Selain tetap mencari peluang kerja yang baru, aku disibukkan oleh hal lain, seperti menjadi ibu rumah tangga dan juga menjadi bagian dalam dalam lingkaran persahabatan dan persaudaraan. Waktuku banyak sekali terpakai untuk menjalin kembali hubungan yang lama beku karena kesibukanku. Saat tak ada target pekerjaan, aku diberi banyak kesempatan untuk membuka hidupku pada satu bentuk kehidupan yang tak pernah kuduga atau kuharapkan. Aku menikmati menjadi istri, saudara, teman dan sahabat bagi orang-orang disekitarku. Bila dulu, hal ini kuanggap hal yang membuang waktu, sekarang tidak lagi. Ternyata, aku masih bisa terus belajar, terus sibuk dan terus mengembangkan diri dengan apa yang kuhadapi saat ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;Terimakasih Sang Waktu, karena Engkau memberikan kesempatan padaku untuk membuka sisi lain dihatiku yang selama ini tertutup karena dalih aku tak sempat. Terimakasih juga, karena disaat seperti ini aku juga boleh terus belajar menyimpan pengharapan. Terimakasih, untuk kesenangan dan kebagiaan yang tetap Engkau berikan. Ternyata aku tak pernah benar-benar menjadi pengangguran. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12173521-115072583092362358?l=catatanmiray.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatanmiray.blogspot.com/feeds/115072583092362358/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12173521&amp;postID=115072583092362358' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/115072583092362358'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/115072583092362358'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatanmiray.blogspot.com/2006/06/pengangguran.html' title='Pengangguran'/><author><name>miraykemuning</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08730566268073221950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12173521.post-114461250696984486</id><published>2006-04-09T21:15:00.000+02:00</published><updated>2006-04-09T22:28:18.536+02:00</updated><title type='text'>Sepatu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;Dua hari yang lalu saat jalan-jalan dengan suami, kami melewati toko sepatu. Mataku sempat tertumbuk pada sepasang sepatu berwarna coklat yang manis. Modelnya sederhana, kulitnya halus dan solnya tidak tebal. Cocok dengan seleraku. Saat asyik menikmati sepatu cantik sambil membayangkan bagaimana kerennya diriku saat memakai sepatu itu, suamiku langsung berkomentar, "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;mmm seleramu begitu-begitu aja, mbok cari model lain!&lt;/span&gt;" Hhhh buyar semua khayalanku dan berganti dengan pembicaraan tentang sepatu. Terutama tentang sepatu suamiku yang terbelah di bagian telapak kakinya dan dia merasa perlu sepatu yang baru. Kalau sudah sampai pada saat "beli sepatu baru", aku begitu iri pada suamiku. Bagaimana tidak, semahal apapun merek sepatu yang dia beli, daya tahannya paling lama hanya enam bulan. Setelah lewat waktu itu, ada-ada saja yang terjadi, entah terbelah, entah solnya menganga, entah kerusakan lainnya sehingga dia selalu mempunya alasan tepat untuk menggantinya dengan yang baru. Sering kukomentari tentang bagaimana galaknya kaki suamiku itu, sehingga kulit-kulit yang seharunya menjanjikan kenyamanan dan daya tahan tak sanggup menampung aktifitas kakinya yang ajaib itu. Dan diam-diam aku ingin memiliki "keberuntungan" itu, yang nyata-nyata tidak berlaku pada diriku. Sekeras apapun usahaku untuk membuat sepatuku menjadi rusak, hampir tak pernah sepatuku berakhir dengan tragis. Sepatuku selalu awet dan baru rusak setelah bertahun-tahun dipakai. Itupun tidak pernah parah, paling-paling hanya warna yang memudar atau lecet sedikit kulitnya, atau solnya yang menipis. Sebenarnya itu bagus juga, selain bagus untuk kesehatan kantong, pada dasarnya aku juga tidak begitu suka berganti-ganti sepatu atau mencoba model-model lain. Seperti komentar suamiku, aku selalu senang sepatu yang modelnya itu-itu saja. Kurang kreatif memang. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;Tetapi bila melihat bagaimana suamiku bisa berganti sepatu dalam waktu relatif singkat, ditambah dengan kesenangan saat mencoba-coba sepatu yang baru, atau kegirangan saat memakainya di kesempatan pertama, aku jadi ingin juga mengalami kegairahan itu. Terlebih bila kuingat betapa manisnya sepatu coklat yang cemerlang di rak toko sepatu itu, aku semakin ingin memiliki kemewahan dengan berganti sepatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya kemewahan itu tak jadi hal yang menarik saat kulihat jejeran sepatuku di rumah. Mataku tertumbuk pada jejeran empat pasang sepatu yang masih terlihat bagus. Kubalik-balik dan kuamati, tak ada yang koyak, tak ada yang terbelah, tak ada yang rusak, solnya masih utuh, bahkan warnanyapun masih bagus. Mmmm, jadi sebenarnya aku tak punya alasan lain untuk membeli yang baru, selain keinginan untuk memuaskan mataku saja. Ditengah kebimbanganku itu, dengan suara penuh belas kasihan, suamiku mendorongku untuk membeli yang baru. Tetapi aku selalu diliputi rasa bersalah bila membeli barang hanya untuk memuaskan keinginan tanpa fungsi yang jelas, lagi akan dikemanakan keempat sepatuku yang masih bagus itu, begitu dalihku. Ya simpan saja, jadi kamu bisa memakainya bergantian, dan sekali-sekali kamu keluar dari pemikiran itu kan tak ada salahnya, sela suamiku. Jadilah aku terombang-ambing dalam kebimbangan, apakah perlu aku beli sepatu manis yang kulihat dua hari yang lalu, atau tidak. Saat masih bingung, kudengarlagi suara suamiku bertanya,"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oh ya, apa kamu masih mau beli buku  yang kemarin kita lihat itu?&lt;/span&gt;"...... Saat itu, buyar sudah khayalanku untuk membeli sepatu dan isi kepalaku segera terganti dengan judul-judul buku yang memang ingin kubeli. Mmmm, untuk sepasang sepatu baru, aku bisa mendapat empat atau lima buku baru, pikirku cepat. Sambil meletakkan sepatuku di rak, kuambil sebuah keputusan. Selamat tinggal sepatu baru, rasanya empat sepatu di rak sudah lebih dari cukup bagiku. Terakhir masih kulihat cengiran lebar suamiku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12173521-114461250696984486?l=catatanmiray.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatanmiray.blogspot.com/feeds/114461250696984486/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12173521&amp;postID=114461250696984486' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/114461250696984486'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/114461250696984486'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatanmiray.blogspot.com/2006/04/sepatu.html' title='Sepatu'/><author><name>miraykemuning</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08730566268073221950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12173521.post-114285085698529191</id><published>2006-03-20T11:04:00.001+01:00</published><updated>2006-03-20T11:53:53.743+01:00</updated><title type='text'>Cita-cita</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sempat ada yang bertanya, apakah pencapaianku sampai hari ini adalah sesuatu yang aku cita-citakan sejak dulu. Pernyataan yang tak lekas bisa terjawab, karena setelah kuingat betapa cita-citaku selalu berubah seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan diriku. Aku ingat, sewaktu kecil, aku pernah begitu kagum pada foto-foto peragawati yang cantik dan aku ingin jadi peragawati. Atau kali lain, ketika aku melihat Dra. Karlina Leksono atau Ibu pratiwi , aku langsung bercita-cita menjadi ahli perbintangan atau jadi astronot. Pernah juga, ketika ibu mengajakku mengambil baju di tukang jahit langganan kami di pasar, aku begitu kagum pada ibu tua penjahit yang begitu terampil menempelkan renda di gaun natalku, dan itu mendorongku untuk menjadi tukang jahit kelak. Yang begitu membekas di ingatanku adalah ketika aku berkeinginan untuk menjadi supir bus atau supir truk. Ini terilhami oleh perjalanan yang cukup sering kami lakukan dari Bandung ke Jakarta bersama nenek atau kerabatku. Setiap kami bepergian dengan menggunakan bus, kami selalu berusaha mendapatkan tempat duduk paling depan, untuk menghindari mabuk begitu dalih nenekku setiap kali. Dan memang, untuk anak kecil seperti aku, perjalanan jauh Bandung-Jakarta yang melewati jalanan penuh kelok di Padalarang atau di Puncak, selalu membuat isi perut terkocok. Tetapi setiap kali kami duduk di depan, aku hampir bisa menahan rasa pusing dan mual tersebut, dan berganti dengan rasa kagum pada bagaimana supir bus mengendalikan kendaraan besar seperti bus. Jaman dulu fasilitas bus tak seperti sekarang, tak ada power steering yang membantu para supir untuk mengendalikan roda-rodanya dengan mudah. Karena itu, aku selalu ternganga melihat kelincahan dan kepandaian para supir bus tersebut. Kekaguman itu membuat aku berharap, suatu saat aku ingin menjadi supir bus atau truk besar. Gagah rasanya bisa berada ditempat yang tinggi dan mampu menaklukkan kendaraan raksasa seperti itu. Menjelang usia remaja, impian menjadi supir bus terganti oleh obsesi untuk menjadi seorang akhli matematika. Ini terpicu oleh teman baikku yang pintar dan bercita-cita menjadi seorang akhli matematik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, peragawati, astronom, astronaut, tukang jahit, supir bus, akhli matematik, adalah rentetan cita-citaku. Dan keinginan atau cita-cita yang selalu berubah itu, terus berlangsung sampai kini. Apa yang terjadi sekarang? di usia matang ini, aku tak menjadi satupun seperti yang kuharapkan dulu. Tak pernah aku berlenggak lenggok di atas catwalk atau tak juga aku melakukan perjalanan panjang dengan bus atau truk besar. Sering ketika aku menengok kebelakang aku bertanya, apakah dengan tidak tercapainya cita-citaku itu aku kemudian menjadi orang yang tidak bahagia? rasanya tidak juga. Aku saat ini begitu menikmati dan bersyukur dengan apa yang sudah aku buat dan aku capai. Dan apakah ketika cita-cita itu tidak tercapai, apakah aku lantas menjadi orang yang gagal? mmm tidak juga. Awalnya aku memang mempunyai mimpi dan aku bergerak menuju mimpi tersebut. Dalam perjalanannya, sering sekali Tangan Gaib menuntunku ke arah yang tak kumengerti. Belum tentu apa yang kita anggap sebagai jalan untuk membuat kita bahagia, pada akhirnya membuat kita bahagia dan berhasil. Tangan Gaib itu juga yang menolong kita mencelikkan mata, dan memampukan kita mengambil jalan di persimpangan. Dan keberhasilan atau kebahagiaan itu tiba saat kita mampu tersenyum dan mengucapkan terimakasih untuk apa yang sudah kita lalui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah aku kini merasa bahagia? tentu saja. Apakah aku saat ini berhenti menaruh mimpi, harapan dan cita-cita? tentu tidak. Dalam perjalanan sisa hidup ini, aku percaya masih begitu banyak senyum dan ungkapan syukur yang bisa dinaikkan. Aku masih mau bermimpi dan menaruh cita-cita, dan aku begitu tak sabar dan bergairah untuk menjalaninya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12173521-114285085698529191?l=catatanmiray.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatanmiray.blogspot.com/feeds/114285085698529191/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12173521&amp;postID=114285085698529191' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/114285085698529191'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/114285085698529191'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatanmiray.blogspot.com/2006/03/cita-cita.html' title='Cita-cita'/><author><name>miraykemuning</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08730566268073221950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12173521.post-114042968863981505</id><published>2006-02-20T10:41:00.000+01:00</published><updated>2006-02-20T11:04:54.173+01:00</updated><title type='text'>Belajar menjadi sahabat</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);"&gt;Pertemuan rutin dua mingguan yang lalu membahas tentang bagaimana menjadi sahabat yang baik. Teman-teman dari umur yang berbeda, latar belakang keluarga, suku dan pendidikan yang berbeda memberikan warna dan arti yang beragam tentang arti persahabatan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);"&gt;Yang satu mengatakan bisa dipercaya, yang lain menekankan pentingnya pengorbanan, dan ada juga yang bicara tentang kejujuran, keterbukaan, cinta, kepedulian dan empati ketika topik ini diangkat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);"&gt;Lalu aku ingat akan teman-teman terbaikku. Ingat akan potongan-potongan pembicaraan dan pertemuan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);"&gt;+&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Hei, selamat yaa...dari dulu gue tau loe emang bisa. Gue ikut seneng yaa....sekaligus sirik....hahahaha&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;span style="color: rgb(153, 102, 51); font-style: italic;"&gt;+ Hei, kamu boleh sedih, tapi jangan kelamaan ya. Kasih deadline. Aku yakin kamu bisa ngelewatin saat gak enak ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;span style="color: rgb(153, 102, 51); font-style: italic;"&gt;+ Aku kecewa dan marah sama kamu......tapi kamu tetep temenku.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;span style="color: rgb(153, 102, 51); font-style: italic;"&gt;+ Kapan kita jalan bareng lagi? nongkrong di cafe di pojokan Bahnhoff kayaknya enak deh!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;span style="color: rgb(153, 102, 51); font-style: italic;"&gt;+ hei, ada waktu untuk sepeda-an bareng? mumpung cuaca cerah ini, daripada duduk di kamar dan mikirin hal yang udah lewat dan gak bisa diubah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);"&gt;dan masih banyak yang lainnya.....dan yang lainnya lagi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);"&gt;Menjalin persahabatan, bukan hanya melewatkan saat manis atau tawa bersama. Ada juga saat salah paham, saat kecewa dan marah, saat tak berdaya. Tapi hanya kemauan yang kuat saja yang tetap mengikat kita dalam tali persahabatan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);"&gt;Pembicaraan panjang tadi malam dengan sahabat-sahabatku membuat pagi hari ini terasa lebih ringan. Kesediaan mereka mendengar semua keputusasaan, ketidakberdayaan dan kemarahanku membuat aku tak lagi membawa kesesakan ini sendiri. Suamiku dengan mata tertawa berkomentar, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(153, 102, 51);"&gt;"Ternyata kamu gak bisa di stop kalau sudah bicara yaa...."&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);"&gt; Aku jadi malu, dan berjanji untuk mau lebih banyak belajar jadi sahabat dengan menyediakan diri untuk mendengar daripada bicara.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12173521-114042968863981505?l=catatanmiray.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatanmiray.blogspot.com/feeds/114042968863981505/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12173521&amp;postID=114042968863981505' title='17 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/114042968863981505'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/114042968863981505'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatanmiray.blogspot.com/2006/02/belajar-menjadi-sahabat.html' title='Belajar menjadi sahabat'/><author><name>miraykemuning</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08730566268073221950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>17</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12173521.post-113835146199406193</id><published>2006-01-27T09:18:00.000+01:00</published><updated>2006-01-27T09:49:27.216+01:00</updated><title type='text'>Ting...tong....</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51); font-style: italic;font-size:85%;" &gt;          Ting....tong...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;Wah, siapa yang nge-bel saat seperti ini sih?  Aku tetap duduk dan berkonsentrasi pada pekerjaanku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51); font-style: italic;font-size:85%;" &gt;          Ting....tong.....ting....tong.....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;Aduuhh...kok tetangga yang lain tidak mau membukakan pintu untuk tukang post sih? rutukku, jengkel. Dan aku tetap tak beranjak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;          &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ting...tong...ting...tong.....&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;Kukuatkan hati karena aku tak punya janji dengan siapapun hari ini. Salah sendiri datang tanpa janji, padahal banyak yang harus kuselesaikan hari ini. Begitu pembenaranku sambil mengetatkan diri di tempat duduk.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;          &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ting...tong...ting...tong....&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;Ampun, buyar semua konsentrasiku dan habis sudah kesabaranku. Sambil merengut dan menggerutu panjang pendek aku bergegas ke arah pintu. Dengan tak sabar kuputar kunci dan kutarik daun pintu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;Ternyata, di depanku berdiri laki-laki dewasa berwajah kekanakan yang menatapku dengan pancaran mata polos dibalik kaca mata tebal dan senyum yang ramah. Tubuh besar berbalut mantel tebal, topi penahan dingin dengan wajah kemerahan masih menyisakan ekspresi keterbatasan kemampuan otaknya. Dengan heran aku bertanya-tanya, mau apa mahluk tak dikenal ini datang padaku?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;Setelah beberapa detik berlalu dalam hening, suara lambat dan sengaunya membuyarkan pertanyaan-pertanyaan tak terucapku. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Guten tag, maaf mengganggu waktu anda yang berharga. Saya dari perkumpulan orang cacat hendak menjual koleksi kartu-kartu ucapan yang kami buat untuk mendukung acara natal buat orang-orang tak mampu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kalimat sepanjang itu diucapkan dengan setarikan napas diiringi senyum yang tak pernah lepas. kaget, aku hanya mampu mengatakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ohh....&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;Belum sempat aku menjawab perkataannya, dia sudah menyambung. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kalau anda keberatan, saya tak memaksa, Herr. Meggers pimpinan kami mengingatkan kami untuk tidak memaksa dan mengganggu kenyamanan anda&lt;/span&gt;. Sambil mendengarkan, aku melirik ke arah tumpukan kartu di tangan kanannya yang berbungkus sarung tangan tebal dan menyambut secarik surat pengantar dari lembaga keagamaan lengkap dengan kop surat, cap dan tanda tangan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;Secara tak sadar aku langsung mengiyakan dan tanpa menyilakan dia masuk, aku mengambil uang dari kamar kerjaku. Sekembalinya, di depan pintu, tetap dengan wajah tersenyum, dia sudah siap dengan sehelai kertas kuitansi. Setelah transaksi terjadi, dia menyodorkan kuitansi itu untuk kutanda tangani, dan dengan telaten dia menghitung uang dan berusaha keras menghitung jumlah kembaliannya. Aku sempat mengatakan untuk menyimpan kembaliannya, tetapi dia menggeleng. Dengan suara kekanakannya dia berkata bahwa dia tetap harus mengembalikan sisa uang. Waktu kupaksa dengan mengatakan bahwa itu untuk membantu kegiatan pelayanannya, dia tersenyum dan kembali mengeluarkan buku kumal dan memintaku mencatat nama, alamat dan jumlah sumbangan. Dan dengan gembira dia mengucapkan terimakasih dan berjanji akan mengundangku untuk datang ke acara perayaan natal itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;Ketika transaksi usai, kupandangi punggung besar yang melangkah riang dengan gumaman senandung lagu. Tak terasa ada air dingin mengalir di pipiku diiringi sejuta sesal. Sesal karena aku tak mengundangnya masuk dan menawarkan secangkir coklat panas. Sesal karena awalnya aku berprasangka. Sesal karena aku mengasihani orang yang tak patut kukasihani. Dan sesal-sesal yang lain. Terselip juga rasa kagum pada kebersahajaan, kerendahan hati dan kejujurannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;Ketika aku kembali duduk di tempat kerjaku, hilang sudah semua keinginan mengejar deadline. Aku lebih ingin mengirimkan kartu-kartu ini dengan cerita tentang penjualnya pada teman-temanku, dengan harapan tak ada lagi kebodohan seperti yang pernah kubuat pagi ini terjadi lagi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12173521-113835146199406193?l=catatanmiray.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatanmiray.blogspot.com/feeds/113835146199406193/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12173521&amp;postID=113835146199406193' title='11 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/113835146199406193'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/113835146199406193'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatanmiray.blogspot.com/2006/01/tingtong.html' title='Ting...tong....'/><author><name>miraykemuning</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08730566268073221950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12173521.post-113809981567079999</id><published>2006-01-24T11:05:00.000+01:00</published><updated>2006-01-24T11:51:05.260+01:00</updated><title type='text'>Paket berkat</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;Beberapa bulan yang lalu, setelah sekian lama, aku ketemu teman berbagi bangku saat SMA. Dia tak berubah, tetap kecil, cerewet dan ceria. Yang berubah hanya ada pendamping disampingnya. Setelah pertemuan itu, berkat kecanggihan internet, kita bisa terus berkomunikasi sampai sekarang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;Ada satu pernyataan yang menggelitik yang pernah dia ungkapkan. Saat itu kita sedang berbagi cerita tentang rentang kehidupan sejak kita pisah sampai saat kita bertemu lagi. Dia bilang begini, &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Mir, ternyata berkat Tuhan itu satu paket ya". &lt;/span&gt; Waktu aku tanya apa maksudnya, dia menjelaskan bahwa yang namanya berkat atau anugrah itu bukan hanya melulu berisi hal-hal yang menyenangkan di mata manusia. Tetapi juga berisi kesulitan dan kesusahan yang dipake untuk menegur, mengingatkan dan menuntun kita supaya kita lebih kuat, sabar dan bijak dalam menyikapi hidup.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;Aku sempat terhenyak membaca penuturan bijak temanku ini. Seperti diingatkan, karena sering sekali saat aku menghadapi kesulitan aku mulai bersungut-sungut dan protes. Sama sekali tidak menyadari bahwa hal itu justru perlu disyukuri, karena saat itu aku bisa belajar tentang sesuatu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;Saat aku mencoba melihat perjalanan hidupku setahun ke belakang. aku di ingat akan masa-masa menyenangkan dan saat-saat sulit yang pernah aku lalui. Kuakui, benar pendapat teman baikku itu, bahwa kasih Tuhan itu selalu dalam paket berkat, lengkap dengan kesukacitaan dan saat sulit. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;Secara khusus, aku ingat saat-saat aku harus menyelesaikan studiku. Ada saat gak bisa mikir, saat penuh, saat blank, saat ditegur pembimbing, saat pekerjaan dianggap tidak memadai. Seiring dengan itu, ada saat lancar membuat tulisan, saat isi kepala terang dengan sejuta ide dan lainnya. Semuanya satu paket, semuanya lengkap. Dan ujung semuanya itu hanya mengantarkan aku pada ungkapan syukur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;Syukur karena aku berkesempatan belajar untuk jadi aku yang sekarang. Syukur karena paket itu menambahkan paket yang lebih besar. Paket persahabatan dan persaudaraan. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;Terimakasih untuk sahabat-sahabat Mbak Ria, neng Marpu, neng Kinoy. Terimakasih untuk teman-teman baik Ni Londo, Maria, Fanny, Pipin dan yang lainnya. Terimakasih untuk teman-teman baru. Terimakasih untuk saudara kekasih Hesti dan Felix. Terimakasih untuk suami tercinta. Terimakasih untuk orang tua dan saudara di Bandung. Dan juga, sejuta terimakasih untuk orang-orang yang melengkapi dan mengantarkan aku sampai hari ini. Tuhan memberkati kalian semua.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51); font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Saat penuh syukur selepas ujian akhir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12173521-113809981567079999?l=catatanmiray.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatanmiray.blogspot.com/feeds/113809981567079999/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12173521&amp;postID=113809981567079999' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/113809981567079999'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/113809981567079999'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatanmiray.blogspot.com/2006/01/paket-berkat.html' title='Paket berkat'/><author><name>miraykemuning</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08730566268073221950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12173521.post-113744215843435188</id><published>2006-01-16T21:00:00.000+01:00</published><updated>2006-01-16T21:09:28.263+01:00</updated><title type='text'>Sebelum ujian</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;Selalu seperti ini bila menghadapi ujian. Ketegangan dan kegelisahan yang sering merembet menjadi sakit perut, kepala pusing dan tak bisa tidur. Beberapa hari lagi memang aku harus menghadapi ujianku. Siap tak siap, waktunya akan datang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;Ada yang terpikir disaat gelisah seperti sekarang ini. Semakin mendekati harinya, semakin aku merasakan kebaikan Sang Pengasih melalui apa yang kulewati waktu demi waktu. Sepertinya Dia ingin menunjukkan bahwa tak pernah Dia biarkan aku melewati kegelisahan ini sendiri. Dia kirim malaikat-malaikat baik hati di tatapan mata kekasihku, di wajah ramah sahabat-sahabatku, di senyum teman-temanku, dan di doa orang yang mengasihiku. Semua ini membuatku tak sempat untuk lebih tegang lagi, karena aku begitu terkesima dengan mujizat kebaikan ini. Memang, Engkau sungguh layak disebut Sang Maha, karena dengan ke-Maha-anMu, engkau sanggup bungkam ketidakpercayaan dan ketakutanku. Bahkan, Engkau sumpal sisi-sisi bolong dari harapan yang menciut, dari ketakutan yang tak beralasan. Apa lagi yang bisa kukatakan, selain terimakasih. Segala pujian, hormat dan kemuliaan, hanya layak bagiMu saja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12173521-113744215843435188?l=catatanmiray.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatanmiray.blogspot.com/feeds/113744215843435188/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12173521&amp;postID=113744215843435188' title='16 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/113744215843435188'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/113744215843435188'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatanmiray.blogspot.com/2006/01/sebelum-ujian.html' title='Sebelum ujian'/><author><name>miraykemuning</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08730566268073221950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>16</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12173521.post-113629924311981337</id><published>2006-01-03T15:22:00.000+01:00</published><updated>2006-01-04T08:02:59.060+01:00</updated><title type='text'>Penunggu jembatan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);"&gt;Di pusat kota, dekat kincir angin tua yang cantik lengkap dengan hamparan rumput hijau tertata rapi, pohon yang rindang dengan jalan setapak berkelok dan riak air kanal yang jernih, ada sebuah jembatan. Bukan jembatan kecil, karena diatasnya dilewati kendaraan bermotor sampai trem. Jembatan sederhana ini sering dijadikan tempat strategis ketika turis hendak mengambil gambar kincir angin, terutama saat musim semi. Khas Eropa. Entah sudah berapa kali kulewati jembatan ini dan entah sudah berapa banyak gambar kubuat baik dengan diriku sebagai objek utama maupun teman-teman yang sekedar berkunjung ke tempat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jembatan ini tak pernah sepi, dan ada penunggunya. Sang penunggu adalah seorang lelaki setengah baya, kumal yang hanya berbekal kantong tidur dan seonggok buntalan kumal. Siang hari, dia hanya duduk dan menadahkan tangan, mengucapkan salam pada setiap yang lewat dan memohon belas kasihan. Lebih banyak yang tak peduli dengan kehadirannya dibanding mereka yang sekedar menengokkan kepalanya. Tetapi dia tetap disitu, menadahkan tangan, memberi salam dan memohon belas kasihan. Di malam hari, tubuhnya tergolek berselimutkan kantong tidur dan bertelekan buntalan kumal, baik di musim panas ataupun di musim dingin. Entah sudah berapa banyak daun kering dan serpihan salju menyentuh sarung tidur dan topi kumalnya, dia tetap disitu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);"&gt;Banyak orang tak senang melihat kehadirannya, karena menganggu keindahan pemandangan. Saat hendak mengabadikan momen cantik berlatar belakang kincir angin tua sering terganggu oleh tubuhnya yang bau dan kumal. Entah berapa banyak cibiran bibir dan dengus kesal terlontar saat ia mulai beraksi. Tak sedikit tatapan mata iba terarah kepadanya, tetapi dia tak bergeming. Sepertinya teguran polisi yang menggusahnya atau membawanya ke rumah penampungan atau kunjungan badan-badan amal tak mampu lagi mengubah niatnya untuk menjadikan jembatan itu sebagai rumahnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);"&gt;Ketika aku duduk diseberang jalan, menikmati pemandangan cantik kincir angin tua dengan hamparan rumput hijau, mau tak mau mataku tertuju padanya. Dalam kesendiriannya, tangan kanannya memegang roti terbungkus kertas tua dan tanggan kirinya menggemgam secangkir plastik kopi panas. Lalu ia mulai menluruskankan kakinya dan bersandar di jembatan. Pelahan ia mengunyah rotinya, sambil sesekali menghirup kopi dengan mata terpejam. Nikmat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);"&gt;Aku tak pernah suka dengannya, seperti juga kebanyakan orang lain. Aku tak pernah ingin berada menggantikan tempatnya, hidup tanpa atap, tanpa teman. Tetapi ia tak peduli. Sepertinya ia tak menginginkan hal lain selain tetap dekat dengan jembatan tuanya. Disana ia tak pernah merasa terusik, bahkan cibiran dan cemoohan itu tak mampu mengganggu ketenangan, keasyikan dan kenikmatannya berada di tepi jembatan. Sepertinya dia tak perlu kursi empuk, rumah besar, baju mentereng, musik lembut dan atribut kenyamanan standard lainnya. Baginya, duduk di pinggir jembatan, mengunyah roti berbungkus kumal, menghirup secangkir kopi sudah membuatnya puas untuk dapat menikmati hembusan angin, pancaran mentari dan riak air kanal dibawahnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);"&gt;Banyak yang  tak kusuka dari keberadaannya, tetapi kenyamanannya membuatku iri.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12173521-113629924311981337?l=catatanmiray.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatanmiray.blogspot.com/feeds/113629924311981337/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12173521&amp;postID=113629924311981337' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/113629924311981337'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/113629924311981337'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatanmiray.blogspot.com/2006/01/penunggu-jembatan.html' title='Penunggu jembatan'/><author><name>miraykemuning</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08730566268073221950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12173521.post-113614768723761429</id><published>2006-01-01T21:21:00.000+01:00</published><updated>2006-01-01T21:35:44.463+01:00</updated><title type='text'>Biasa dan tak biasa</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);"&gt;Biasanya....&lt;br /&gt;menjelang tutup tahun aku habiskan bersama keluargaku. Beruntung aku terlahir dari keluarga besar, sehingga malam menjelang tutup tahun tak pernah kuhabiskan sendiri. Ada ibu, ada bapak, ada kakak, ada adik, ada kakek, nenek dan saudara-saudara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya....&lt;br /&gt;menjelang tutup tahun ada hidangan sup kacang merah dan kue gula merah serta pisang goreng untuk disantap bersama seluruh keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya....&lt;br /&gt;menjelang tutup tahun tak pernah ada kesunyian. Suara kegembiraan ditingkahi tawa ceria membahana menyemarakkan malam pergantian tahun. Wajah-wajah penuh senyum berbaur dengan nyanyian sukacita, membuat hati tak pernah merasa sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya....&lt;br /&gt;menjelang tutup tahun ada doa bersama dan wejangan pengantar langkah menuju tahun baru yang penuh tantangan sekaligus penuh harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya....&lt;br /&gt;menjelang tutup tahun ada harapan yang dinaikkan diam-diam untuk kebahagiaan dan kesehatan di tahun yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak  biasa....&lt;br /&gt;menjelang tutup tahun ini aku lewatkan tanpa senyum dan kehadiran keluargaku. Ibuku tersenyum penuh kegembiraan dari sorga, bapak, adik dan kakakku tertawa bersama di belahan bumi yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak biasa....&lt;br /&gt;menjelang tutup tahun ini aku ditemani teman terbaik, belahan jiwa sekaligus suami tercinta. Ditambah kehangatan bersama sahabat di negri asing ini membuat aku tak bisa tak menebar senyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tetap ada dan sama....&lt;br /&gt;doa dan harapan agar tetap ada senyum dan kaki yang kuat dan kepala yang tegak untuk menghadapi berbagai kemungkinan di masa depan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tetap ada dan sama....&lt;br /&gt;keyakinan dan ungkapan syukur, bahwa Tuhan Maha Kasih tak pernah berubah, dulu, sekarang dan selamanya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12173521-113614768723761429?l=catatanmiray.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatanmiray.blogspot.com/feeds/113614768723761429/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12173521&amp;postID=113614768723761429' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/113614768723761429'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/113614768723761429'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatanmiray.blogspot.com/2006/01/biasa-dan-tak-biasa.html' title='Biasa dan tak biasa'/><author><name>miraykemuning</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08730566268073221950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12173521.post-113394261705556208</id><published>2005-12-07T08:12:00.000+01:00</published><updated>2005-12-07T09:06:56.843+01:00</updated><title type='text'>Pengamen</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/2783/1018/1600/CIMG0176.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2783/1018/200/CIMG0176.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;Pengamen, sering sekali menimbulkan konotasi pengganggu ketenangan. Bagaimana tidak, bila kita sedang duduk berpanas-panas dalam bus atau angkot ditambah kemacetan dan kelelahan, kita pasti akan terganggu dengan kehadiran sosok pengamen yang bersuara pas-pasan dengan alat musik dan keahlian yang juga pas-pasan. Apalagi terakhir selalu disusul oleh disebarkannya kantong lusuh atau topi kumal sebagai penampung ungkapan penghargaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;Di tanah air, aku jarang sekali bisa menghargai profesi pengamen. Tetapi tidak sejak aku berkesempatan tinggal di Eropa. Sosok pengamen di beberapa tempat di Eropa, seperti di Bremen, malah menambah semarak suasana kota. Pengamen di sini, tidak bisa mengamen sembarangan. Pertama, mereka tidak boleh mengamen dalam sarana transportasi umum atau berjalan dari rumah ke rumah. Berani berbunyi, pemilik rumah, sang sopir atau kondektur langsung menghentikan mereka. Dan bila masih membandel, polisi pun akan dengan sigap turun tangan. Kedua, bila pengamen nekat tetap ingin mengamen, mereka harus mendaftarkan dan melaporkan kegiatan pada polisi untuk tahu kapan, dimana dan berapa lama mereka boleh mengamen. Alhasil, pengamen di sini hanya ditemukan di pusat kota, di muka stasiun atau tempat-tempat turis lainnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;Selain sarana mencari uang, mengamen juga sering dipakai sebagai ajang melatih keberanian diri untuk tampil di muka umum. Tak jarang mahasiswa jurusan musik atau drama memamerkan kemampuan mereka. Saat menjelang natal pun, sering sekelompok anak-anak menyanyikan lagu-lagu natal. Tetapi yang sering terjadi, para pengamen ini bertujuan utama mencari pemasukan selain memberi hiburan dan kemeriahan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;Dalam prakteknya, kebanyakan pengamen akan menampilkan lagu-lagu khas Eropa, seperti lagu-lagu klasik dari Mozart, Beethoven, Handels dan lainnya. Kehadiran para pengamen ini mampu membuat pejalan kaki atau pembelanja berhenti sejenak untuk menikmati penampilan mereka. Penampilan yang indah dan kompak membuat kantong atau wadah yang mereka siapkan akan dipenuhi oleh rincingan uang logam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/2783/1018/1600/CIMG0795.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2783/1018/200/CIMG0795.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;Karena persaingan yang ketat, maka para pengamenpun cukup serius berinovasi, baik dalam penampilan maupun kualitas sajian mereka. Beberapa pengamen favoritku adalah duet dua lelaki yang mengkombinasikan musik elektrik, akustik dan juga ember besar atau kelompok pemain alat musik tiup dari Rusia atau duet perempuan berwajah serius dengan biolanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;Penampilan profesional sekelompok warga Indian juga selalu menggelitik rasa kagumku. Dimanapun mereka tampil, penonton akan tersedot dengan antusias tinggi. Bagaimana tidak, bila mereka tampil ciamik dengan kostum dan perlengkapan suku Indian. Musik yang dimainkan akan mengingatkan kita pada suara alam, ditambah tarian yang eksotis, membuat mereka pantas mendapat acungan jempol. Penampilan merekapun dilengkapi oleh sound system yang memadai, bahkan sang asisten dengan rajin menawarkan CD rekaman lagu-lagu mereka pada pengunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menikmati penampilan mereka, tak jarang pikiranku melayang ke tanah air. Kapan ya para pengamen itu bisa mendapat tempat dan penghargaan yang baik seperti di sini? tapi mengingat begitu banyaknya jumlah mereka dan betapa semrawutnya peraturan dijalankan, mungkin aku hanya bisa berharap saja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12173521-113394261705556208?l=catatanmiray.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatanmiray.blogspot.com/feeds/113394261705556208/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12173521&amp;postID=113394261705556208' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/113394261705556208'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/113394261705556208'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatanmiray.blogspot.com/2005/12/pengamen.html' title='Pengamen'/><author><name>miraykemuning</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08730566268073221950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12173521.post-113393692296073225</id><published>2005-12-07T06:59:00.000+01:00</published><updated>2005-12-07T07:29:38.163+01:00</updated><title type='text'>Seandainya</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(153, 102, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;-  Hallo Bu..&lt;br /&gt;+  hallo....ya, ibu bisa dengar suaramu dengan baik nak, apa kabar?&lt;br /&gt;-  Baik Bu. Aku punya berita bagus buat ibu, satu jam yang lalu aku sudah menyerahkan disertasiku. Akhirnya ya bu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;      ........ &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hening.....&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;-  Bu,  ibu masih ada?&lt;br /&gt;+  Ada nak, ibu bahagia sekali (terdengar suaranya bergetar), ibu bangga padamu nak.&lt;br /&gt;-  Terimakasih bu, kalo enggak ada dukungan ibu dan bapak, entah apa jadinya ya bu...&lt;br /&gt;+ Ah, ya tidak begitu to....&lt;br /&gt;-  Kalau saja ibu ada disini, kupeluk ibu kuat-kuat...&lt;br /&gt;+  ibu bisa merasakan pelukanmu nak. Lalu bagaimana keadaanmu?&lt;br /&gt;-   lelah tapi lega bu&lt;br /&gt;+  sudah mengucap syukur kepada Tuhan nak? ingat, kamu bisa sampai hari ini karena pertolongan Tuhan&lt;br /&gt;-  ups, aku lupa bu&lt;br /&gt;+  ya sudah, tutup teleponnya lalu kamu berdoa dan bersyukur sama Dia. Itu yang penting kamu lakukan nak&lt;br /&gt;-  wah, aku masih kangen bu...&lt;br /&gt;+  iya, ibu mengerti. Tapi Dia juga kangen pada ungkapan syukurmu. Dia sudah beri begitu banyak buatmu, tapi kamu malah lupa.&lt;br /&gt;-  iya bu, nanti aku telepon lagi.&lt;br /&gt;+  iya nak. Ibu sayang kamu. Jaga dirimu baik-baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;-----------------&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div style="text-align: justify; color: rgb(153, 102, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Ibu, seandainya dialog itu benar terjadi, lengkaplah kebahagiaanku. Sayang, kau tak ada lagi disisiku. Hari ini, saat aku menuntaskan apa yang menjadi harapan dan cita-citaku, cita-cita kita, engkau tak lagi hadir. Saat yang sudah lama kau nantikan, kau doakan, tak sempat kau saksikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu, seandainya aku boleh meminta, aku ingin melihat senyummu dan mendengar suaramu. Aku ingat, senyum dan suara lembutmu selalu membuatku tenang dan kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu, seandainya mataku bisa melihat, aku percaya saat inipun kau sedang tersenyum dan tak pernah berhenti bangga padaku. Akupun bangga padamu ibu. Engkau sudah menjadi ibu penebar harapan dan ibu pembangkit semangat yang membuncahkan hasrat untuk tak menyerah. Terimakasih ibu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12173521-113393692296073225?l=catatanmiray.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatanmiray.blogspot.com/feeds/113393692296073225/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12173521&amp;postID=113393692296073225' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/113393692296073225'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/113393692296073225'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatanmiray.blogspot.com/2005/12/seandainya.html' title='Seandainya'/><author><name>miraykemuning</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08730566268073221950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12173521.post-113302409342463548</id><published>2005-11-26T17:45:00.000+01:00</published><updated>2005-12-28T08:18:55.113+01:00</updated><title type='text'>Pagi Putih</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pagi ini putih semua. Memang seperti ini di awal musim dingin. Walaupun sudah berkali-kali aku mengalami pagi putih, tetapi pagi putih pertama di musim dingin selalu mengejutkan. Begitu juga pagi ini, aku dibangunkan oleh lamat-lamat suara pengerok salju. Langsung dengan bersemangat aku mendekati jendela. Oh, betapa alam dilingkupi oleh limpahan putih. Halaman kecil rumah kami ditutupi hamparan karpet salju, mobil dan sepeda berselubung serpihan salju, dahan-dahan kering juga tertimpa salju, jalanan putih seperti krem pada kue tart, bersih dan halus, atap-atap rumah seperti rumah kue di cerita hansel dan gretel yang ditaburi gula halus. Cerobong-cerobong asap asyik mengepulkan asap hangat dan samar masih kulihat serpihan-serpihan salju tipis. Begitu putih, begitu menyilaukan dan begitu indah. Sebentar kubuka jendela, dan aku langsung disambut oleh keheningan yang menyengat. Seiring dengan itu, kepulan napasku menghasilkan kepulan udara hangat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tak kusadari, lama aku terdiam dan tertegun. Sementara alam terus berpesta, menebarkan kepingan putih yang mengkilat ketika tertimpa cahaya matahari sendu. Selamat datang musim dingin.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12173521-113302409342463548?l=catatanmiray.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatanmiray.blogspot.com/feeds/113302409342463548/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12173521&amp;postID=113302409342463548' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/113302409342463548'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/113302409342463548'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatanmiray.blogspot.com/2005/11/pagi-putih.html' title='Pagi Putih'/><author><name>miraykemuning</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08730566268073221950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12173521.post-113222680683053188</id><published>2005-11-17T11:40:00.000+01:00</published><updated>2005-11-17T12:26:46.843+01:00</updated><title type='text'>Lumpia kewajiban</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;Memang tidak pernah ada nama lumpia kewajiban. Yang ada lumpia semarang, lumpia goreng, atau lumpia basah. Tetapi, sejak tinggal di sini hidupku tak pernah lepas dari kewajiban membuat lumpia bila ada acara khusus di tempatku bekerja.  Jadilah, suka tak suka, mood tak mood, bila ada pesta atau sekedar syukuran melepas kelulusan teman, kewajibanku adalah menyiapkan lumpia. Saat ini memang aku sudah mahir membuat lumpia goreng. Tetapi bila mengingat lumpia kewajiban, aku terkenang pada saat aku harus membuat lumpia kewajiban pertamaku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;Sebelumnya,  aku tak pernah tahu bagaimana membuat lumpia dan tak pernah berpikir untuk membuatnya sendiri. Setelah aku menjadi satu-satunya orang Asia di tempatku bekerja, teman-temanku dengan giat mencari tahu apa makanan khas Asia, terutama makanan khas Indonesia. Pada sebuah pesta beberapa tahun yang lalu, temanku mengusulkan untuk membuat makanan khas negara masing-masing atau daerah masing-masing. Memang anggota kelompok kerjaku begitu beragam, semua berasal dari negara-negara Eropa, kecuali aku tentunya.  Panik dan bingung karena aku tak bisa masak dan tak punya daya kreativitas tinggi, akhirnya kudatangi teman baikku, seorang perempuan Indonesia yang bersuamikan londo. Akhirnya dengan bantuannya,  jadilah aku membawa kue lapis dan lumpia. Lega rasanya....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;Ternyata, tak dinyana tak diduga, lumpia menjadi makanan favorit. Dan meskipun aku sudah berdalih dengan sejuta alasan bahwa itu bukan buatanku, teman-temanku sudah mendaulatku sebagai sumber penghasil lumpia terenak di kota ini. Sebenarnya aku tak berkeberatan dengan hal ini, kalau saja tidak berakhir menjadi kewajiban. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;Setelah kejadian itu, temanku menjadi langgananku bila permintaan lumpia datang lagi. Untungnya dia selalu mau membantu dengan senang hati, karena memasak memang hobinya. Dan walaupun sudah berkali-kali aku menemaninya membuat lumpia, aku tak pernah berkeinginan untuk membuatnya sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;Sampai suatu hari.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;Salah satu temanku akan merayakan kelulusannya. Sejak seminggu sebelumnya dengan wajah tak berdosa dia memintaku khusus untuk membuatkan lumpia.  Dan dengan enggan ku-iya-kan. Tetapi, ternyata teman baikku, si pembuat lumpia, sejak seminggu sebelumnya pulang kampung. Walhasil....selama seminggu aku begitu bingung bagaimana mempersiapkan semua ini. Menolak? aku tidak tega, karena tatapan berbinar mata teman baikku, si penggemar lumpia. Akhirnya, dengan berat hati aku berusaha membuatnya sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;Dimulai dengan berburu bahan di toko Asia. Perburuan ini ternyata menyita waktu banyak, karena aku harus bolak balik membeli bahan yang terlupa atau tertinggal. Pagi itu, di dapurku kuamati bahan2 yang ada. Mmmmm....kulit lumpia, minyak goreng, tahu, rebung, wortel, bawang merah, bawang putih, garam, merica, kemiri...ups...aku bimbang, perlukah kemiri? akhirnya kuputuskan tidak. Lalu, kol, daging ayam, mmm rasanya cukup.  Dengan semangat, kukupas, kucincang, kurebus, kupotong bahan2 pembuat lumpia tersebut. Dengan penuh rasa percaya diri, kuracik bumbu-bumbu pengisi lumpia sambil bernyanyi riang. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;So far so good&lt;/span&gt;.  Penderitaan mulai terasa, ketika aku harus menggulung kulit lumpia yang sudah kuisi . Bahan kulit yang sangat ringkih tersebut, begitu mudah robek kalau kita tak hati-hati melipatnya. Entah sudah berapa kulit lumpia menjadi korban ketidakterampilanku dan entah sudah berapa banyak sumpah serapah menjerit di hatiku. Tetapi yang pasti, kesabaranku akhirnya mencapai titik kulminasi dan aku menyerah pada gulungan ke dua puluh.  Aku langsung terduduk, kesal, marah, sedih dan kecewa. Kupandang seisi dapurku yang penuh dengan onggokan kulit lumpia dan bahan-bahan lainnya yang bertebaran. Siapa bilang menjadi koki itu mudah? siapa bilang menjadi ibu rumah tangga itu pekerjaan mudah karena hanya perlu memasak dan mengurus anak juga suami? siapa bilang membuat lumpia itu mudah? siapa bilang....?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;Siang itu berakhir dengan dua puluh potong lumpia goreng yang tak jelas bentuk dan warnanya. Sempat terpikir untuk membeli saja lumpia goreng di restoran. Tetapi akhirnya kuputuskan untuk membawa semua hasil karyaku dengan harapan teman-temanku akan mengerti keterbatasanku.  Ternyata, dunia tidak seramah yang diharapkan. Berbagai komentar mulai berkumandang seiring dengan gigitan pertama pada lumpiaku. Rasanya agak lain ya kali ini? sepertinya ada yang tidak pas pada lumpiamu ya? wah aku mengigit ayam yang kurang matang! dan...itu terus diikuti oleh komentar-komentar lainnya. Dengan menahan rasa malu dan sedih, di tengah pesta, kukumpulkan lumpia kewajiban yang tersisa dan kusimpan dalam tasku. Memang, pesta tetap berjalan dan teman-temanku tetap bergembira karena makanan lain yang melimpah ruah. Rasanya hanya aku yang menyimpan rasa sedih dan malu pada saat itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;Sesampainya di rumah, ku buka sisa lumpiaku dan kumakan. Memang tak enak, tetapi tetap saja kukunyah dan  kutelan sambil pikiranku melayang kepada ibuku, kepada teman baikku si pembuat lumpia dan kepada berjuta-juta ibu rumah tangga. Oh, betapa mulianya apa yang mereka lakukan, karena sepotong buah tangan yang selama ini sering kuabaikan telah membawa rasa kenyang dan rasa nikmat. betapa memasak yang selama ini kuanggap sebagai hal yang wajar dan biasa, ternyata adalah suatu pekerjaan besar yang penuh kerelaan dibalut kasih. Aku jadi malu, karena aku selama ini sering tidak berterimakasih kepada ibuku, yang selalu menyiapkan masakan yang nikmat dan lezat walaupun mungkin dia kehilangan kesempatan untuk menyenangkan dirinya sendiri.  Karenanya, dengan mengunyah lumpia kewajiban yang ajaib itu, aku ingin berkata, terimakasih ibu untuk telah menjadi ibu yang rela memasak dan memberikan rasa nikmat dan kenyang kepadaku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12173521-113222680683053188?l=catatanmiray.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatanmiray.blogspot.com/feeds/113222680683053188/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12173521&amp;postID=113222680683053188' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/113222680683053188'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/113222680683053188'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatanmiray.blogspot.com/2005/11/lumpia-kewajiban.html' title='Lumpia kewajiban'/><author><name>miraykemuning</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08730566268073221950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12173521.post-112842069140612345</id><published>2005-10-04T11:48:00.000+02:00</published><updated>2005-10-04T12:15:53.706+02:00</updated><title type='text'>Penuh</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Saat ini aku sedang merasa ke'penuh'an. Bagaimana tidak, belakangan ini hal-hal yang kurang menyenangkan bertubi-tubi datangnya. Minggu lalu, karena sok konsentrasi pada pekerjaan, aku lupa menyambungkan selang mesin cuci ke saluran pembuangan ketika aku mencuci tumpukan pakaianku. Alhasil, dapurku banjir. Dan yang lebih parah, air itu juga meluap membanjiri ruang penyimpanan bawah tanah (Keller) milik tetanggaku. Huh...jadilah minggu lalu aku 'kerja bakti' membersihkan Keller. Dan kebodohanku itu juga membuat aku harus setiap hari memeriksa Keller, baik lantainya maupun atapnya yang juga menjadi lembab karena rembesan air. Pemilik rumah sudah mengingatkanku untuk membongkar lantai dapurku dan menghidupkan pemanas duapuluh empat jam, agar lantai kayu rumahku benar-benar kering. Kalau tidak itu akan menjadi sarang pertumbuhan jamur-jamur yang tidak diinginkan. Karenanya, sekali lagi kusingsingkan lengan baju mendorong, menggeret dan memindahkan barang-barang dari dapur, yang sungguh tidak ringan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dengan sedikit cemas, kubayangkan betapa rekening gas dan listrikku akan melonjak bulan ini, karena paling tidak pemanas harus non stop dijalankan selama beberapa hari. Dengan sedikit was-was, kuharapkan saja tidak ada barang-barang yang berharga milik tetanggaku yang ikut menjadi rusak karena banjir air pembuangan ini. . &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;................&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Di tengah kekacauan ini, aku teringat akan tugasku yang belum juga rampung dan deadline yang semakin menyempit. Dengan marah juga, aku menyesali keteledoranku. Karena ini membuatku harus melakukan sesuatu yang sebetulnya tak perlu terjadi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;........&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Yah....sudahlah&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-size:85%;"&gt;Aku sempat berpikir, setelah ini, tak akan ada hal yang membuat keadaan semakin buruk lagi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tetapi....&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tiga hari yang lalu kaki kananku keseleo ketika aku mencoba memakai sepatu dan membuat kaki kananku membengkak. Bongkahan biru di kaki kananku tidak saja membesar tetapi juga menimbulkan rasa sakit ketika aku berjejak dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;membuatku harus terpincang-pincang. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Belum lagi lepas, dua hari ini aku terserang flu berat. Telinga berdenging, hidung banjir, tenggorokan panas dan gatal dan badan menggigil. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sedang berusaha aku mengatasi semua ini, kabar dari tanah air mengatakan bunda tercinta terbaring di rumah sakit dengan keadaan yang cukup serius.&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Akhirnya...&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Aku menyerah. Ya, pagi ini akhirnya aku menyerah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sambil berbaring, aku mencoba untuk melepaskan semuanya dan membiarkan tanganNya bergerak. Menghibur, menguatkan dan meneguhkan harapanku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Saat penuh kali ini membuat aku semakin berani berharap, ada yang baik sedang menunggu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12173521-112842069140612345?l=catatanmiray.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatanmiray.blogspot.com/feeds/112842069140612345/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12173521&amp;postID=112842069140612345' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/112842069140612345'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/112842069140612345'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatanmiray.blogspot.com/2005/10/penuh.html' title='Penuh'/><author><name>miraykemuning</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08730566268073221950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12173521.post-111951623055213206</id><published>2005-06-23T10:28:00.000+02:00</published><updated>2005-06-24T10:51:34.976+02:00</updated><title type='text'>Malu</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;&lt;span lang="DE" style=""&gt;Sering hal-hal kecil yang memalukan terjadi dalam hidupku. Mungkin sebenarnya untuk kebanyakan orang hal itu bukanlah suatu masalah besar, apalagi harus merasa malu ketika menghadapinya. Tetapi entah mengapa, rasa malu yang timbul dalam diriku lebih karena malu pada diri sendiri. Aku tak cukup peka untuk memikirkan perasaan orang lain terhadapku, tetapi sering kali aku berada ditengah keadaan dimana aku merasa amat sangat malu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;&lt;span lang="DE" style=""&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;&lt;span lang="DE" style=""&gt;Seperti kejadian yang terjadi beberapa hari yang lalu. Seperti biasa aku sedang duduk di ruang kerja bersama rekan kerjaku. Memang sudah sekitar tiga tahun kami berbagi ruang yang sama dan juga berbagi proyek yang sama dengan pendekatan yang berbeda. Kami sama-sama orang asing di negri ini, tetapi keasingannya tak begitu tampak karena dia datang dari negara tetangga yang juga berbahasa sama dengan bahasa yang dipakai di negri ini. Sedikit banyak kami berbeda. Dia, seorang perempuan juga, lebih senang berekspresi baik dalam penampilan maupun dalam pergaulan, sementara aku memilih mengambil langkah aman dengan sikap dan penampilanku yang cenderung konservatif. Kepribadiannya yang menyenangkan dan terbuka membuatnya bisa diterima di kalangan manapun. Sepertinya bergaul dan berteman bukan hal yang sulit buatnya, tetapi tidak buatku. Aku sangat pendiam dan tak menyukai keramaian. Tetapi walaupun kami berbeda, kami sangat menikmati perkawanan dan kebersamaan kami. Kami seperti terlibat dalam simbiosa mutualisma, dia dengan kesenangannya bercerita dan aku dengan kebiasaanku menjadi pendengar. Karena sifatnya yang ramai dan menyenangkan, tak heran pula temannya datang dari berbagai kalangan. Tak jarang ruangan kami menjadi penuh oleh mereka yang datang untuk berbincang, bercanda atau mengadu. Aku tak pernah berkeberatan selama ini, tetapi kegiatannya yang melebihi batas akhir-akhir ini membuatku menjadi terganggu. Bagaimana tidak, kami sama-sama berada disaat akhir dimana kami harus menyelesaikan proyek kami, tidak bukan kami tetapi aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memang ingin segera terbebas dari tekanan-tekanan ini, sementara untuknya penundaan bukan masalah besar. Karenanya sudah kukatakan kepadanya, kalau aku perlu saat untuk bisa bekerja dengan tenang, tanpa gangguan orang yang datang dan pergi hanya untuk membuang waktu saja. Awalnya dia setuju, tetapi dampaknya sungguh luar biasa. Setiap ada yang datang, secara demonstratif dia akan memperkenalkan orang itu padaku, yang selalu membuatku memalingkan wajah dan beranjak dari kursi, dan kemudian dia akan berkata kepada temannya kalau sebaiknya mereka bicara diluar saja karena mereka tak bisa bicara di ruangan kami karena aku tak bisa diganggu oleh keributan. Teman-temannya, dan aku sendiri, sering tercengang, tetapi kemudian mereka akan tersenyum maklum dengan tatapan mata iba pada temanku dan kemudian berlalu tanpa memberikan kesempatan untuk aku melakukan atau mengatakan sesuatu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;&lt;span lang="DE" style=""&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;&lt;span lang="DE" style=""&gt;Berada dalam keadaan seperti ini, rasa malu sering menyergapku. Bukan rasa marah atau kecewa, tetapi rasa malu. Malu karena sepertinya aku begitu mementingkan diriku sendiri dengan mengabaikan kepentingan orang lain. Malu karena kemauanku harus diprioritaskan sementara dia harus mengalah dan melanjutkan kegiatannya di tempat lain. Karena rasa malu itu, kukatakan pada temanku kalau dia sebaiknya berlaku seperti biasa saja. Kalau dia bisa mengungsi untuk kepentinganku, aku pun bisa berbuat serupa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;&lt;span lang="DE" style=""&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;&lt;span lang="DE" style=""&gt;Tetapi kemudian hal ini diketahui oleh temanku yang lain. Dia begitu heran dengan keputusanku, dalihnya ruang kerja adalah untuk bekerja dan bukan untuk berbicara tak menentu. Kemudian dia memberi masukan padaku untuk berani menyatakan hal-hal yang mengganjal dengan terbuka dan tak perlu menjadi pahlawan kesiangan dengan keputusanku. Ditambahnya lagi, aku punya hak yang sama dengan teman seruanganku untuk menggunakan ruang kerja sebagai tempat bekerja. Selepas pembicaraanku dengan teman baikku ini, aku kembali merasa malu. Malu karena aku tak bisa mengambil sikap yang tepat disaat yang tepat. Aku malu karena aku selalu terjebak pada keadaan dimana aku tak mampu atau tak berani mengatakan tidak atau mengatakan apa yang aku rasakan dan pikirkan. Malu karena aku lebih memilih untuk tidak dijauhi dengan membiarkan kepentinganku tersisihkan. Aku malu sekali.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="DE" style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;Dan di tengah rasa malu ini, aku menjadi bingung. Apa yang sebaiknya kukatakan dan kulakukan, bukan untuk menyenangkan teman seruanganku atau menyenangkan diriku. Aku bingung, bagaimana aku bisa terlepas dari rasa malu yang aneh ini dan mulai bisa bersikap rasional dan menjadi diriku sendiri. Tak mudah memang, minimal untukku.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12173521-111951623055213206?l=catatanmiray.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatanmiray.blogspot.com/feeds/111951623055213206/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12173521&amp;postID=111951623055213206' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/111951623055213206'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/111951623055213206'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatanmiray.blogspot.com/2005/06/malu.html' title='Malu'/><author><name>miraykemuning</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08730566268073221950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12173521.post-111805251046202356</id><published>2005-06-06T11:28:00.000+02:00</published><updated>2005-06-06T12:57:20.883+02:00</updated><title type='text'>Menghitung Berkat</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#993300;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#993300;"&gt;"Hitunglah berkatmu hari ini, dan kau akan tercengang melihat jumlahnya"&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#993300;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#993300;"&gt;Sebaris kalimat bijak di atas memang sudah menjadi teman penolongku sejak lama. Aku ingat saat aku merasa marah dan kecewa berpuluh tahun yang lalu. Ketika itu aku masih seorang gadis kecil, yang mengalami hari yang buruk. Hasil ujian yang buruk, bermusuhan dengan teman, kehilangan jepit rambut, dan rusaknya boneka kesayangan karena gigitan anjing. Hari itu aku merasa begitu marah, tak berdaya dan sedih. Seperti biasa, ibuku datang dan menghibur, lalu dia menuliskan sebaris kalimat diatas dalam catatan harian kecilku. Intinya, ibuku ingin mengingatkanku kalau tak pernah ada satu hari buruk tanpa satu sukacita yang kualami. Pasti ada yang baik yang Dia berikan saat aku merasa semua berjalan tak seperti yang kumau. Bahkan hal yang kuanggap kekecewaanpun, adalah berkat yang patut kuhitung. Karena kekecewaan itu bisa menjadi bahan pemacu, bahan evaluasi dan bahan penguat untuk aku kembali bersemangat memasuki hari yang lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#993300;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#993300;"&gt;Aku ingat, saat ibuku mengajakku duduk bersama dan menghitung berkat disaat aku justru merasa tak mampu menghitungnya. Sering di atas secarik kertas putih, kami menuliskan deretan berkat yang kami terima hari itu. Setelah beberapa saat kertas putih itu akan penuh dengan tulisan bertinta yang juga sering kabur karena tetesan air mata. Dan tak jarang kami memerlukan kertas lain lagi untuk menuliskan setiap berkat yang kami terima hari itu. Sambil menulis, ibuku tak jarang menyelipkan kata-kata penghiburan yang mendorongku untuk tetap kuat, tabah dan sabar dalam menghadapi saat yang menyesakkan. Dan setelah kami merasa lelah dengan kegiatan hitung menghitung yang selalu membuatku tercengang akan begitu banyaknya jumlah berkat yang mampu kuhitung, ibuku juga mengingatkan bahwa masih banyak jumlah berkat yang belum sempat tertulis padahal lenganku sudah lelah. Dari hal itu aku boleh belajar, bahwa suatu hal akan membawa kesedihan atau kesukaan tergantung bagaimana kita melihat dan menyikapinya. Ujungnya, beliau akan mengajakku melihat kenyataan bahwa ada dua pilihan untukku. Pilihan pertama aku boleh terus duduk diam dan menyesali serta memikirkan semua kesedihanku, atau aku mau bangkit dan bersyukur serta memulai lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#993300;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#993300;"&gt;Saat ini, setelah puluhan tahun berlalu, ibuku tak ada disampingku ketika aku ada dipersimpangan jalan lagi. Tak ada suara lembut dan tatapan hangat ketika airmata mulai membuat pandangan mataku menjadi kabur. Tapi, kuraih juga selembar kertas putih. Kali ini kumulai dengan menuliskan perasaan negatifku. Aku merasa diperlakukan tidak adil oleh alam ini. Tahun lalu aku menderita sakit hebat yang membuatku harus menjalani pengobatan panjang selama setahun. Hal ini membuatku tak mampu menyelesaikan tugas-tugasku tepat pada waktunya. Setelah deadline terlewati tanpa aku sanggup memenuhinya membuatku kehilangan sumber penghasilanku dan membuatku sedikit panik akan kehidupanku di negri asing ini. Kutambahkan lagi pukulan terakhir dalam hidupku dengan gagalnya proposalku. Tanganku bergetar ketika kutuliskan hal ini. Selama ini aku sering berpikir, aku sudah menghadapi begitu banyak kesusahan setahun terakhir, karenanya aku layak untuk mendapatkan sedikit kegembiraan dengan keberhasilan proposalku. Ternyata tidak seperti itu. Aku tetap tidak berhasil dengan proposal penelitianku. Dan aku sedih. Aku merasa tak sanggup mengitung berkatku hari itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#993300;"&gt;Kutinggalkan kertas berisi daftar kesedihan dan kekecewaanku, dan aku mulai menghubungi sahabat-sahabat baikku dan membagikan apa yang kurasakan. Kukatakan aku merasa sedih, malu, kecewa dan marah. Sahabat-sahabatku dengan serta merta memberikan dorongan semangat dan penghiburan. Melalui candaan, melalui teguran, melalui dorongan, mereka sedikit banyak telah menghangatkan hatiku. Aku tak merasa sendiri lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#993300;"&gt;Kuangkat juga gagang telepon dan ketika kudengar suara lembut yang begitu kurindukan, tumpahlah kembali semua cerita kesedihan itu. Dan di ujung sana, suara yang sama mengajakku untuk kembali memilih. Memilih untuk berlama-lama dengan semua pikiran negatif, atau memilih untuk menghitung berkat dan bangkit kembali.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#993300;"&gt;Aku duduk sendiri saat ini. Hatiku masih sedih dan mataku masih sedikit bengkak. Tetapi rasanya tak apa menjadi sedih sesekali. Disisi lain aku tahu bahwa aku diperhadapkan pada pilihan lagi. Aku harus membuat deadline terhadap cara pandang dan posisiku dalam menyikapi kegagalan ini. &lt;/span&gt;&lt;span style="color:#993300;"&gt;Di depanku ada secarik kertas putih dan aku aku teringat akan keberadaan orang tua, saudara, sahabat, teman dan mereka yang dekat sudah menolongku untuk memilih. Kali ini aku memilih untuk tak mau tenggelam dalam perasaan yang tak menentu. Aku memilih untuk memandang kedepan dan menghitung berkat yang kuterima.&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#993300;"&gt; Aku memilih untuk menerima kesakitan ini sebagai bagian dari proses perjalanan hidup yang akan semakin membuatku kuat. Memang aku tak tahu apa yang ada di depan, dan aku tak perlu tahu. Ketidaktahuan akan membuatku terus bergerak, berusaha dan berharap. Terimakasih Sang Maha, karena Kau lengkapi hidupku dengan berkat yang tak ternilai. Rasanya aku perlu bertumpuk lembaran kertas putih untuk menghitung berkatku hari ini. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#993300;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#993300;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12173521-111805251046202356?l=catatanmiray.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatanmiray.blogspot.com/feeds/111805251046202356/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12173521&amp;postID=111805251046202356' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/111805251046202356'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/111805251046202356'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatanmiray.blogspot.com/2005/06/menghitung-berkat.html' title='Menghitung Berkat'/><author><name>miraykemuning</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08730566268073221950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12173521.post-111703365535225450</id><published>2005-05-25T16:42:00.000+02:00</published><updated>2005-05-25T17:43:34.010+02:00</updated><title type='text'>Pesawat</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Beberapa minggu yang lalu, aku dan kawan baikku yang tinggal di kota lain membuat janji untuk bertemu. Karena jarak yang jauh, kami sepakat untuk menjadikan Hamburg tempat pertemuan kami. Selain kotanya indah, jaraknya juga dekat dari kota kami sehingga kami tak akan banyak kehilangan waktu. Semenjak kami menjejakkan kaki di stasiun, langsung saja pembicaraan mengalir tak henti. Memang selalu seperti itu, bila bertemu, inti pertemuan hanya dipenuhi oleh cerita, keluhan dan tawa. Sering kami tak sadar kemana kaki membawa kami melangkah. Kadang kami menyusuri deretan pertokoan, kadang kami menumpang bus atau kereta bawah tanah, atau kadang kami duduk begitu saja di taman kota. Rasanya keindahan kota Hamburg menjadi tak begitu menarik dibandingkan dengan sejuta cerita yang ingin kami bagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya langkah membawa kami ke tepi Sungai Elbe, sungai terbesar yang membelah kota Hamburg. Kami sepakat untuk menyusuri sungai itu dengan menggunakan kapal. Kami memilih duduk di dek atas yang terbuka. Cukup berani memang, mengingat saat itu masih awal musim semi, dimana anginnya masih bertiup kencang dan udara masih dingin menggigit. Ada alasan khusus mengapa kami nekat memilih terterpa angin kencang, karena kami tak mau gerakan kapal di ruangan tertutup mengaduk isi perut kami sehingga kami tak bisa menikmati perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kapal berjalan, barulah kami sempat terdiam. Bukan hanya karena udara yang dingin dan rasa lelah, tetapi juga karena suguhan pemandangan yang indah di sepanjang sungai. Tiba-tiba kami dikejutkan oleh suara kapal yang terasa begitu dekat. Ternyata kami sudah mendekati pabrik kapal airbus di Finkenwerde. Dengan takjub kami melihat kapal yang terbang begitu rendah. Langsung kusenggol lengan temanku untuk segera mengabadikan pesawat itu. Tetapi entah karena udara terlalu dingin atau perut yang teraduk, foto yang dihasilkan hanya mampu mengabadikan kapal dengan ukuran yang sangat kecil. Tapi tak apa, karena foto itu malah menjadi foto pertama yang tampil di blogku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terimakasih Kinoy untuk perjalanan yang menyenangkan sekaligus melelahkan. Terimakasih mbak Ria yang sudah dengan tabah mengajari orang gaptek macam aku untuk meng-up load foto ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://www.geocities.com/miray_kemuning/contoh-kapal.jpg" border="1" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12173521-111703365535225450?l=catatanmiray.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatanmiray.blogspot.com/feeds/111703365535225450/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12173521&amp;postID=111703365535225450' title='10 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/111703365535225450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/111703365535225450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatanmiray.blogspot.com/2005/05/pesawat.html' title='Pesawat'/><author><name>miraykemuning</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08730566268073221950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12173521.post-111651155995584342</id><published>2005-05-19T14:40:00.000+02:00</published><updated>2005-05-25T17:15:31.446+02:00</updated><title type='text'>Kemeja Putih</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);font-size:85%;"&gt;Kemeja putih ini masih baru. Tapi aku belum pernah memakainya. Aku ingat saat membeli kemeja ini dua tahun yang lalu bersama adikku, saat aku berkesempatan pulang setelah lama meninggalkan rumah. Kemeja putih ini begitu cantik, tidak hanya putih polos, tetapi mempunyai pola bunga dan lingkaran yang berulang. Cantik. Semuanya putih. Bila tak menyimak, sepertinya hanya menampakkan kepolosan tanpa motif. Tetapi sesungguhnya tidak seperti itu. Bahan kain kemeja itupun begitu halus, sangat nyaman dipakai. Ketika pertama melihat kemeja itu, aku dan adikku sepakat untuk masing-masing dari kami memilikinya. Sambil tertawa geli, kami membayangkan lucunya bila kami berpakaian kembar seperti ini. Seperti mengenang kenangan manis masa kecil, dimana kami selalu diberi pakaian yang sama, hanya karena kami bersaudara.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);font-size:85%;"&gt;Tetapi, melihat kemeja itu hari ini menimbulkan kegemasan dihatiku. Betapa tidak, saat mencobanya dua tahun yang lalu, semuanya begitu sempurna. Jahitannya bagus, pas mengikuti bentuk tubuhku, tetapi tidak melekat ketat, sehingga aku masih bisa bergerak dengan leluasa. Aku ingat, saat bayangan diriku terpantul di cermin, aku terlihat lebih manis dengan kemeja putih itu. Kuakui selama ini aku tidak begitu peduli dengan penampilanku, meskipun aku seorang wanita. Cukup tambil segar, bersih dan tak berbau sudah cukup buatku. Jarang aku ambil pusing dengan penampilanku. Tetapi...tidak. Tentu aku peduli. Aku tak suka pakaian yang mencetak bentuk tubuhku terlalu erat. Aku tak suka kakiku dan pahaku terpampang nyata, bukan karena tak ingin, tetapi aku tak cukup beruntung memiliki bentuk kaki dan kulit yang indah. Karenanya aku lebih suka menutupnya, agar hatiku tak terganggu baik oleh komentar atau sekedar pandangan penuh rasa iba. Disamping itu, aku tak suka berdandan. Buatku itu terlalu menyita waktu dan melelahkan, selain aku tak pandai memadupadankan warna-warna di kulit wajahku. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);font-size:85%;"&gt;Menurut ibuku aku cantik walaupun kulitku terkena alergi yang sering meninggalkan bekas buruk di kulitku. Dan aku tak keberatan dengan pendapatnya meskipun banyak tatapan mata iba bila mereka memandang kulit burikku. Setiap berkaca, yang terpantul hanyalan kesempurnaan wajah seorang manusia. Rambut, dahi yang ditumbuhi anak rambut, dua mata yang dilengkapi sepasang alis, hidung, bibir, dagu dan dua telinga. Aku bersyukur dengan kelengkapan itu, dan karenanya aku menganggap diriku cantik walaupun tak semua setuju dengan pendapatku. Kuanggap itu sah-sah saja, toh setiap orang mempunya pemikiran dan pendapatnya sendiri-sendiri. Praktis saja.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);font-size:85%;"&gt;Kepraktisan memang bagian hidupku. Aku tak begitu suka dengan hal-hal yang serba rumit yang sebenarnya bisa disederhanakan. Ketika ibuku menaruh rasa iba dengan keberadaan alergiku, kukatakan, tak apa ibu, itu bukan hal yang mengganggu hidupku. Alergi tak akan membuatku berhenti merasa bahagia. Aku terlalu percaya bahwa hidupku tidak hanya melulu rentetan kepiluan, tetapi juga terangkai dengan senyum dan tawa. Karenanya, sering kukatakan pada ibuku, biarlah ini menjadi penanda keseimbangan dalam hidupku. Bila aku bisa melakukan hal lain dengan baik, dan pada saat yang sama tidak bisa terlepas dari alergi yang menurut kebanyakan orang menjijikkan, itu sudah seimbang. Seimbang dalam artian aku tak bisa sempurna disemua hal. Kesempurnaan hanya milikNya dan aku cukup beruntung untuk bisa memiliki ketidaksempurnaan yang akhirnya membawaku untuk tak bisa bermegah diri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);font-size:85%;"&gt;Tetapi tidak kali ini. Kemeja putih yang kubeli dua tahun yang lalu menjadi tidak bersahabat. Tidak ada yang salah pada kemeja itu. Jahitannya tetap sempurna dan bahannya tetap halus. Tetapi kemeja itu sekarang begitu menggigit kuat pinggangku yang baru kusadari melebar dengan bertambahnya waktu. Aku begitu marah pada diriku sendiri. Bagaimana bisa ini terjadi? dengan kesal kutatap gelambir-gelambir lemak yang bertonjolan di pinggang dan perutku.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);font-size:85%;"&gt;Kutatap pantulan tubuhku dalam cermin dengan sedih. Memang masih kudapati pantulan wajah cantik, tetapi tersangga oleh tubuh yang membengkak. Kulepas kemeja cantik itu sambil mengingat-ingat apa saja yang telah kulakukan dua tahun terakhir ini. Berolah raga?? Olala, kuakui aku tak pernah melakukannya. Dan ooh...baru teringat, setahun terakhir ini aku menghabiskan waktuku dengan duduk di depan komputer dan menanggungkan semua kegiatan pada jemariku. Hhhh.....baik, sekarang bagaimana dengan pola makan? Oh, langsung saja wajahku memanas mengingat bagaimana aku mengkonsumsi makanan selama ini. Kujejali tubuhku dengan sampah-sampah tak berguna. Tak kudasadari selama ini aku jarang membiarkan mutlutku berhenti memamah biak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);font-size:85%;"&gt;Tak heran bila kini aku bermetamorfosa menjadi monster bulat. Betapa selama ini kuabaikan tubuhku hanya karena alasan kesibukan yang sebenarnya hanya pembenaran dari kemalasan dan lemahnya rasa tanggung jawabku untuk menjaga kesehatanku.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);font-size:85%;"&gt;Selama ini, aku selalu berharap dan belajar untuk menjadi seorang yang dapat diandalkan. Tetapi bila melihat keadaanku saat ini aku menjadi malu. Menjaga diriku sendiripun aku tak mampu. Bahkan dengan dalih kesibukan kubiarkan tubuhku digerogoti lemak-lemak yang pelahan akan memakan ketahanan dan kesehatan tubuhku sendiri. Lalu, bagaimana aku mengatakan aku mengasihi sesama, bila tubuh yang merupakan milik diriku ini tak mampu kukasihi dengan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);font-size:85%;"&gt;Kemeja putih yang sempat kulemparkan kembali kuraih. Benda polos nan nyaman ini mengingatkanku untuk mewujudkan kasih pada diri sendiri dengan tindakan nyata, dengan merawatnya. Kemeja putih nan cantik sudah menegurku bahwa mengasihi dan peduli bukan hanya janji dan omong kosong, tetapi lebih merupakan tindakan nyata yang didasari kemauan, kedisiplinan, kesungguhan dan ketulusan. Dan rentetan tindakan nyata ini akan mengambil waktu yang tidak pendek, karena sering kita menjadi lemah atau lelah saat menjalankannya. Tapi tak apa, toh hidup ini merupakan ajang latihan dan prose belajar untuk menuju keseimbangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);font-size:85%;"&gt;Sebelum aku melangkah lebih jauh dengan mengucapkan dan melakukan tindakan kasih dan kepedulian pada sekelilingku, ada baiknya aku memulainya dengan diriku sendiri agar saat aku membaginya aku sudah terlatih dalam kesungguhan dan ketulusan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12173521-111651155995584342?l=catatanmiray.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatanmiray.blogspot.com/feeds/111651155995584342/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12173521&amp;postID=111651155995584342' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/111651155995584342'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/111651155995584342'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatanmiray.blogspot.com/2005/05/kemeja-putih.html' title='Kemeja Putih'/><author><name>miraykemuning</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08730566268073221950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12173521.post-111452116482072540</id><published>2005-04-26T15:09:00.000+02:00</published><updated>2006-01-03T16:00:43.196+01:00</updated><title type='text'>Bulan</title><content type='html'>&lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt; color: rgb(153, 102, 51);" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;Bulan bulat sempurna memanjakan mataku sore ini. Dilatari langit biru muda dan hamparan awan kelabu, kehadiran bulan bundar putih bersinar benar-benar menggetarkan. Terlebih bila kulihat hamparan salju tipis di pelataran belakang gedung dan juga lapisan-lapisan keping salju memenuhi dahan dan ranting yang masih kering. Benar-benar pemandangan yang fantastis. Sementara awan kelabu merayap perlahan, kehadiran bulan sedikit hilang dan timbul dan memberikan efek warna dan terang yang luar biasa. Indah. Aku tak tahu bagaimana menceritakan semua ini. Indah, sungguh indah. Sementara diluar, hanya ada kesunyian. Semua suara seperti terserap dinginnya udara yang merayap melewati titik beku. Sepi dan syahdu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt; color: rgb(255, 0, 0);" align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);font-family:Times New Roman;font-size:85%;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt; color: rgb(255, 0, 0);" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(153, 102, 51);" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;&lt;br /&gt;Bila kuamati, kehadiran bulan seperti tidak nyata. Dia seperti digantungkan disana untuk menggoda mata, menjadi penghias langit. Bulan, lengkap dengan bulatan putih dengan batas tegas sempurna. Di tengah bulatan itu, terlihat bercak-bercak kelabu yang menunjukkan permukaan yang sedikit berbeda. Benar-benar bulatan sempurna. Aku bahkan memerlukan sebuah jangka ketika aku berusaha menampilkan bulatan. Tangan kecilku tak mampu menarik batas bulat sempurna. Bulan ternyata bukan hanya sekedar bulatan sempurna yang tergantung di kehampaan angkasa tanpa tujuan. &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Dia ada di sana sebagai bagian dari harmoni alam semesta. Pada kenyataannya dia merupakan bola raksasa di angkasa, melayang dan berputar mengikuti keteraturan alam. Tanpa kehadirannya, mungkin alam semesta menjadi pincang. Dia hadir bukan sebagai pelengkap, tetapi dia salah satu esensi alam. Dia memang Maha Kreatif. Kegemaran utamanya adalah membuat kagum mata manusia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(153, 102, 51);" align="justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(153, 102, 51);" align="justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);font-family:times new roman;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(153, 102, 51);" align="justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);font-family:times new roman;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(153, 102, 51);" align="justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);font-family:times new roman;" &gt;Dari tempatku duduk dan terpaku, kemampuan mataku yang terbatas hanya mampu melihat bulan sebagai bulatan melayang di angkasa sebagai penanda datangnya malam, cerahnya malam tanpa awan. Padahal dia lebih dari sekedar apa yang bisa kutangkap dengan mata atau isi kepalaku. Terkadang, egoisme seorang manusia sepertiku hanya mampu berpikir dan menganggap kehadiran tanda- tanda alam hanya pelengkap keberadaan manusia. Ternyata, kehadirannya jauh lebih besar dan lebih bermakna dari sekedar isi kepalaku yang terbatas ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(153, 102, 51);" align="justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(153, 102, 51);" align="justify"&gt;&lt;span lang="DE"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(153, 102, 51);" align="justify"&gt;&lt;span lang="DE"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;&lt;br /&gt;Tak heran begitu besar usaha manusia berusaha mengerti keberadaan alam ini. Melalui puisi, melalui nyanyian, melalui perenungan bahkan melalui usaha ilmu pengetahuan untuk dapat sekedar menyatakan kekaguman, ketidakberdayaan dan keterbatasan kemampuan manusia untuk mengerti. Bahkan saat ini pun, mata dan mulutku tak mampu menggambarkan betapa besar gairah dan kesenangan yang terasa hanya dengan menatapnya. Begitu terang, begitu terasa dekat. Sepertinya tanganku mampu meraihnya, membelai dan merasakan kehangatannya berpendar di jari-jariku yang kecil ini. Jarak besar yang memisahkan diriku dengan bulan, tak mampu menyembunyikan pengaruhnya dalam hatiku.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(153, 102, 51);" align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);font-family:Times New Roman;font-size:85%;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(153, 102, 51);" align="justify"&gt;&lt;span lang="DE"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(153, 102, 51);" align="justify"&gt;&lt;span lang="DE"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(153, 102, 51);" align="justify"&gt;&lt;span lang="DE"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(153, 102, 51);" align="justify"&gt;&lt;span lang="DE"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(153, 102, 51);" align="justify"&gt;&lt;span lang="DE"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;&lt;br /&gt;Hatiku pada sore menjelang pukul lima di musim gugur ini menjadi hangat. Kalau sebelumnya, sesiangan aku begitu disibukkan dengan usaha yang kuanggap dapat membuatku menjadi bahagia ternyata hanya mendatangkan kelelahan. Tetapi sore menjelang malam ini, hanya dengan duduk diam dan menatap pendaran sinarnya, aku merasa tenang, terhibur sekaligus terpana. Lagi-lagi aku diingatkan bahwa kebahagiaan tidak hanya datang dari kerja keras dan berjerih. Saat duduk diam, saat berinteraksi dengan kemegahan alam, saat begitu kecil dan terkagum, saat itu juga ketentraman hadir.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(153, 102, 51);" align="justify"&gt;&lt;span lang="DE"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(153, 102, 51);" align="justify"&gt;&lt;span lang="DE"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(153, 102, 51);" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(153, 102, 51);" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(153, 102, 51);" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(153, 102, 51);" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;&lt;br /&gt;Aku tak bermaksud mengatakan bahwa manusia tak perlu berjerih. Itu perlu, karena itu bagian dari kodrat hidup. Tetapi seringkali aku terjebak pada hal-hal yang membuatku berputar-putar pada lingkaran yang tak pernah habis dan tak ingat bahwa ada hal lain yang begitu berharga yang terlupakan. Dengan kehadiran terang bulan di sore ini, aku diingatkan bahwa Dia ciptakan segala sesuatu dengan tujuan mulia. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);" lang="EN-US"&gt;Tak ada yang sia-sia. Keberadaan setiap helai daun, setiap jasad renik, setiap aliran sungai, setiap siklus gas, setiap iringan awan, setiap pancaran terang adalah bagian dari harmoni alam semesta. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);" lang="DE"&gt;Semua berjalan dan berinteraksi sempurna, teratur dan tepat. Setiap komponen bergerak dan berputar mengikuti kodratnya tanpa mengeluh dan penuh kesetiaan serta kepatuhan. Mengapa aku, sebagai komponen kecil dari mega komunitas ini sering tak mau berjalan dalam keselarasan? Alam begitu ramah bila kita membuka hati pada kehadirannya dan akan terasa asing bila kita memalingkan wajah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(153, 102, 51);" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(153, 102, 51);" align="justify"&gt;&lt;span lang="DE"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(153, 102, 51);" align="justify"&gt;&lt;span lang="DE"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(153, 102, 51);" align="justify"&gt;&lt;span lang="DE"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(153, 102, 51);" align="justify"&gt;&lt;span lang="DE"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;" align="justify"&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;Terimakasih bulan. Kehadiranmu malam ini tidak hanya memanjakan pandanganku, tetapi memijat sisa keletihan. Terimakasih karena sore menjelang malam ini engkau mampir dan menyingkapkan hal yang tak sempat terperhatikan oleh keterbatasanku. Padahal sosokmu tak pernah sama, kadang menyabit, kadang terpotong, kadang tak bulat sempurna. Tetapi engkau selalu hadir, sebagai penerang diwaktu malam saat awan tak menutupi cahayamu. Kalau bintang-bintang sedang ramah, kalian hadir bersama menemani mata-mata yang penuh kerinduan akan ketenangan dan kebahagiaan. Maafkan aku yang lebih sering memilih terang lampu sebagai teman, lebih milih terang televisi sebagai penghibur dan melupakan kehadiranmu, melupakan kehadiran jamahan penciptaMu. Betapa Dia mampu membuat semua indah, bukan hanya terlihat indah, tapi juga indah dalam arti sebenarnya. Selamat datang malam.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12173521-111452116482072540?l=catatanmiray.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatanmiray.blogspot.com/feeds/111452116482072540/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12173521&amp;postID=111452116482072540' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/111452116482072540'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/111452116482072540'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatanmiray.blogspot.com/2005/04/bulan.html' title='Bulan'/><author><name>miraykemuning</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08730566268073221950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12173521.post-111452024741166952</id><published>2005-04-26T14:52:00.000+02:00</published><updated>2006-01-03T15:57:56.636+01:00</updated><title type='text'>Lelah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(153, 102, 51);"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);font-size:85%;" &gt;Sedari pagi hanya berusaha mengumpulkan keping-keping semangat yang bertebaran. Minggu lalu kupikir dengan mengambil waktu istirahat, aku bisa sedikit menjadi lega dan terinspirasi. Ternyata, di hari kedua saat istirahatku aku merasa lelah, justru karena tak ada yang dapat kukerjakan, kupikirkan. Kelelahan itu bertambah saat aku harus memunguti keping-keping yang berserak agar aku bisa kembali hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya aku salah mengisi saat istirahatku. Ya sudah. Aku mau cari jalan lain.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12173521-111452024741166952?l=catatanmiray.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatanmiray.blogspot.com/feeds/111452024741166952/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12173521&amp;postID=111452024741166952' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/111452024741166952'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/111452024741166952'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatanmiray.blogspot.com/2005/04/lelah.html' title='Lelah'/><author><name>miraykemuning</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08730566268073221950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12173521.post-111349125528973489</id><published>2005-04-14T17:06:00.000+02:00</published><updated>2006-01-03T15:57:14.350+01:00</updated><title type='text'>Awal</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;Setelah lama maju dan mundur.&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;Maju dan mundur lagi.&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;Hari ini memberanikan diri untuk memulai.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12173521-111349125528973489?l=catatanmiray.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatanmiray.blogspot.com/feeds/111349125528973489/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12173521&amp;postID=111349125528973489' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/111349125528973489'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12173521/posts/default/111349125528973489'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatanmiray.blogspot.com/2005/04/awal.html' title='Awal'/><author><name>miraykemuning</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08730566268073221950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
